Positive Thinking

Positive Thinking Akan Sangat Membantu Pola Pikir Kita Dalam Berkomunikasi Antara Kita Serta berkreasi Maupun Dalam Menunjang Aktivitas Kita

Senin, 18 Juli 2011

Akankah Letusan Lokon Semakin Dahsyat

Gunung Lokon masih menyimpan energi yang sewaktu-waktu bisa dimuntahkan.

VIVAnews - Gunung Lokon tak menunjukkan penurunan aktivitas vulkaniknya. Gunung yang terletak di Tomohon, Sulawesi Utara itu terus memuntahkan material panasnya ke udara. Bahkan, semburan Lokon semakin menjulang tinggi ke langit Tomohon.

Aktivitas Lokon meningkat sejak akhir Juni 2011. Selanjutnya, pada 9 Juli 2011, letusan-letusan kecil terjadi hampir setiap jam. Status Lokon kemudian ditingkatkan dari waspada menjadi awas pada 10 Juli. Di hari yang sama, Lokon meletus sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 00.39 Wita dan 00.50 Wita dengan ketinggian semburan material mencapai 600 meter.

Pada Selasa 12 Juli 2011, Lokon kembali meletus. Sekitar pukul 13.15 Wita, terjadi semburan material panas setinggi 400 hingga 500 meter ke udara. Saat itu juga, seorang warga bernama Yohana Mawikere (56 tahun) yang berdomisili di kaki gunung itu meninggal dunia karena menderita jantung.

Dua hari berikutnya, Kamis 14 Juli 2011, sejak pagi pukul 06.00 Wita hingga 12.00 Wita tampak asap putih tebal dengan ketiggian sekitar 100 hingga 150 meter muncul dari mulut kawah Lokon.

Selang beberapa jam, atau tepatnya pada pukul 22.45 WIB, terjadi letusan besar dengan lontaran material pijar, seperti pasir dan abu tebal setinggi kurang lebih 1.500 meter. Lontaran material pijar ini menyebabkan kebakaran hebat pada hutan di sekeliling gunung.‎ Dari kejauhan, hutan di sekitar punggung Lokon tampak merah membara.

Amukan Lokon belum berhenti. Pada Jumat 15 Juli 2011 sekitar pukul 00.30 WIB kembali terjadi letusan dengan semburan asap setinggi 600 meter. Kemudian, Sabtu 16 Juli 2011, tiga letusan juga kembali terjadi. Letusan pertama terjadi pada pukul 02.47 Wita dengan ketinggian asap mencapai 800 meter dari kawah Tompaluan. Letusan kedua terjadi pada pukul 05.15 dan kemudian pukul 07.04 Wita dengan tinggi letusan mencapai 300 meter.

Sementara itu, pada Minggu 17 Juli 2011 siang, sekitar pukul 10.34 Wita, Lokon lagi-lagi meletus. Bahkan, letusan kali ini semakin hebat. Menurut pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), semburan material panas kali ini mencapai ketinggian 3.500 meter.

"Semburan material panas seperti pasir halus, debu, dan material lainnya terlihat tegak lurus mencapai ketinggian sekitar 3.500 meter dari mulut kawah," kata Kepala PVMBG, Surono kepada VIVAnews.

Energi Masih Tersimpan

Surono belum bisa memastikan kapan aktivitas Lokon akan menurun dan kembali tenang. Menurut dia, aktivitas gempa Lokon masih terus terjadi. Lokon, masih menyimpan energi yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan ke permukaan. "Gempa tremor, gempa dalam masih terjadi," kata dia.

Gunung setinggi 1.579 meter di atas permukaan laut itu bisa menjadi sangat berbahaya jika mengeluarkan awan panas. Karakter letusan Lokon mirip dengan Gunung Merapi yang meletus hebat akhir 2010 lalu. Keduanya sama-sama menyemburkan awan panas yang mematikan. Di Merapi, awan panas ini juga dikenal dengan sebutan wedhus gembel. "Pernah terjadi awan panas pada tahun 1991. Kalau sudah terjadi awan panas ya kita sudah tidak bisa apa-apa lagi karena pasti sampai dengan radius 3,5 kilometer," jelas Surono.

Surono mengatakan, Gunung Lokon pernah mengeluarkan awan panas pada 27 November 1969 dan 1991. "Potensi awan panas masih ada," kata dia.

Surono kemudian menjelaskan rekam-jejak letusan Gunung Lokon itu. Pada 27 November 1969 terjadi letusan yang memuntahkan awan panas serta gugusan abu. Kemudian, pada 1991 juga terjadi letusan yang mengeluarkan awan panas dan material yang menimbun ribuan rumah penduduk. Lalu, pada 7 Juli 2000, terbentuk lubang baru di dasar kawah.

Pada Januari sampai Mei 2001, terjadi letusan abu. Februari sampai Desember 2002, letusan abu dan material pijar terlontar dari puncak gunung. Februari sampai Maret 2003, juga terjadi letusan abu. "Pada Desember 2007 ada peningkatan kegiatan. Ada tremor. Saya khawatir dengan periode-periode itu. Risiko yang paling buruk adalah awan panas," kata Surono.

Secara periodik, awan panas itu baru dimuntahkan lagi sekitar 22 tahun kemudian. Tapi Surono tidak bisa menjamin periode itu menjadi acuan utama siklus awan panas tersebut.

Pengungsi Direlokasi

Ada dua skenario evakuasi warga sekitar di Lokon. Kawasan Rawan Bencana (KRB) I ditetapkan pada radius 5 km dari potensi jatuhan batu pijar dan debu pekat. Sedangkan KRB II ditetapkan pada radius 3,5 km dari potensi awan panas dan lahar. Masyarakat yang menghuni KRB I berjumlah sekitar 28 ribu orang, dan di KRB II sekitar 12 ribu orang.

Berdasarkan data terakhir yang diterima dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pada pukul 09.15 WIB, Sabtu 16 Juli 2011, jumlah pengungsi mencapai 4.692 jiwa. “Laki-laki 2.417 orang, dan perempuan 2.275 orang. Terdiri dari 1.352 kepala keluarga yang tersebar di 6 pos pengungsian,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Sementara itu, sebanyak 3.947 orang pengungsi yang berada di empat titik pengungsian direlokasi pada hari Minggu 17 Juli 2011. Empat titik pengungsian itu berada di SMA Kristen Binous, SMA Kristen 1 dan 2, SMP 1 Tomohon, dan SD GMIM.

"Alasan relokasi karena 4 titik tersebut adalah sekolah yang besok Senin akan mulai aktivitas belajar," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Para pengungsi, kata Sutopo, telah diberikan pengertian untuk relokasi ini. Segala perlengkapan telah di sediakan. Menurut Sutopo, pengungsi kelompok rentan yang berjumlah 991 orang (lansia, perempuan hamil, penderita cacat, balita) dan keluarganya akan direlokasi dalam satu titik lokasi di Fakults Ilmu Sosial (FIS) Unima. "Hingga pagi ini jumlah pengungsi bertambah menjadi 5.205 orang," imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar