Positive Thinking

Positive Thinking Akan Sangat Membantu Pola Pikir Kita Dalam Berkomunikasi Antara Kita Serta berkreasi Maupun Dalam Menunjang Aktivitas Kita

Minggu, 30 Oktober 2011

pemerintah keluarkan rencana aksi penurunan emisi

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengeluarkan rencana aksi nasional penurunan emisi gas rumah kaca melalui Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2011, guna mencapai target penurunan emisi sebesar 41 persen pada 2020.

"PP (peraturan pemerintah)-nya telah ditandatangani pada 20 September 2011 guna mendorong gerakan penurunan emisi gas buang," kata Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Bappenas, Maruhum Batubara, pada forum grup diskusi tentang hemat energi, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, sesuai PP tersebut pemerintah pusat dan daerah, serta kementerian dan lembaga, mendapat tugas dalam rencana aksi nasional penurunan emisi gas rumah kaca.

PP tersebut, kata dia, merupakan upaya dan tekad pemerintah Indonesia untuk memenuhi janji menurunkan emisi gas rumah kaca pada 2020 sebesar 26 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional.

Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) tersebut, lanjut dia, meliputi bidang pertanian, kehutanan dan lahan gambut, energi dan transportasi, industri, serta pengolahan limbah.

PP itu juga memerintahkan gubernur untuk menyusun rencana aksi daerah penurunan gas rumah kaca (RAD-GRK) paling lambat 12 bulan setelah keluarnya PP tersebut, dan menyampaikannya ke Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ka Bappenas dan Mendagri.

Menteri dan pimpinan lembaga diminta menyampaikan pelaksanaan RAN-GRK ke Menko Bidang Perekonomian, dan Menko diwajibkan melapor kepada Presiden mengenai pelaksanaan RAN-GRK paling sedikit satu tahun sekali.

Wakil dari Direktorat Konservasi Energi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Maryam, mengatakan, pada Agustus pemerintah mengeluarkan Inpres Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penghematan Energi Air, yang menginstruksikan lembaga pemerintah pusat dan daerah melakukan langkah dan inovasi dalam penghematan energi dan air.

"Target Inpres tersebut adalah penghematan listrik sebesar 20 persen, penghematan BBM bersubsidi sebesar 10 persen, dan air 10 persen. Diharapkan dengan Inpres tersebut pegawai negeri menjadi pelopor penghematan energi dan air," katanya.

Untuk itu, kata dia, pemerintah juga membentuk tim nasional penghematan energi dan air.

Asap Gunung Anak Krakatau daya tarik wisatawan

Anyer (ANTARA News) - Kepulan asap Gunung Anak Krakatau yang menjulang tinggi dan terlihat jelas dari pesisir Pantai Anyer menjadi daya tarik wisatawan.

"Saya datang ke Pantai Anyer untuk berlibur. ternyata sekarang bisa melihat wujud Gunung Anak Krakatau (GAK) dan asapnya," kata salah seorang wisatawan dari Tangerang, Miko Haikal, di Pantai Patra Sambolo, Anyer, Sabtu.

Dia menjelaskan, pemandangan GAK yang mengeluarkan asap dari perutnya jarang terjadi terlihat dari pesisir pantai Anyer. "Ini pemandangan langka setelah GAK kembali ditetapkan statusnya menjadi siaga dari waspada. Karena jarak dari pantai Anyer ke GAK sangat jauh, mencapai puluhan kilo meter," katanya.

Ia menyatakan, ingin lebih jelas melihat kegempaan yang terjadi pada GAK sehingga harus mendekat dengan menyewa kapal. "Kalau ingin jelas, memang harus menyeberang mendekat ke lokasi GAK," katanya.

Senada diakui oleh Mirna Wati. Perempuan paruh baya ini merasa terpuaskan dengan dapat melihat wujud dan asap GAK yang menjulang tinggi. "Saya datang ke Pantai Anyer memang hanya ingin mandi dilaut bersama anak dan cucu. Tapi begitu dapat melihat asap GAK, saya benar-benar senang," katanya

Apalagi katanya, pemandangan dan fenomena kegempaan gunung tersebut akan dibuatkan cerita kepada cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Cucu saya tadi sepertinya senang melihat ada asap keluar dari gunung, karena selama ini dia melihat hal itu di televisi. Dan katanya ia akan ceritakan itu ke teman-temannya di sekolah," katanya.

Pantauan di lapangan, meski wujud GAK tidak begitu jelas terlihat dari pesisir Pantai Anyer, namun kepulan asap yang menjulang tinggi ke atas, nampak jelas terlihat berwarna kelabu kehitam-hitaman. (ANT-152/Z002)

Kamis, 27 Oktober 2011

Kegempaan Gunung Anak Krakatau 4.088 kali

Kalianda (ANTARA News) - Kegempaan vulkanik Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda sebanyak 4.088 kali, kata petugas pemantau gunung itu, Andi Suardi, Rabu.

"Belum ada letusan atau erupsi material vulkanik dari gunung tersebut," katanya di pos pemantau Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Ia mengatakan kegempaan ini menurun pada kisaran 4.000 kali per hari dalam dua hari terakhir.

Sebelumnya, menurut dia, kegempaan antara 6.000 sampai 6.500 kali, yang bertahan selama sepekan. Ini merupakan kegempaan paling banyak selama aktivitasnya meningkat dalam beberapa bulan ini.

"Gunung Anak Krakatau masih tetap mengeluarkan asap tipis seperti hari-hari sebelumnya, meski kegempaan tinggi," kanya.

Menurut dia, meskipun kegempaan menurun dalam dua hari terakhir, namun aktivtas dapur magma masih tinggi, karena gunung ini belum mengeluarkan material vulkanik.

Ia mengatakan dalam waktu dekat gunung itu diprediksikan akan erupsi, dan ini sudah menjadi tipe gunung tersebut. "Anak Krakatau mempunyai karakter memperbesar diri dengan muntahan material vulkaniknya," katanya.

Andi mengatakan nelayan yang beraktivitas hendaknya tetap menjaga jarak aman dengan radius dua sampai tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Menurut dia, dalam beberapa pekan terakhir gunung ini sulit terpantau secara visual, karena cuaca berawan yang selalu menyelimuti perairan Selat Sunda.

Kepada warga yang tinggal di daerah terdekat dengan gunung tersebut diminta tidak perlu cemas, karena masih cenderung aman. "Aktivitas gunung ini memang cenderung fluktuatif, atau naik turun, dan sulit diperkirakan perubahan aktivitasnya," katanya.
(ANT-048/M008)

Minggu, 23 Oktober 2011

Gempa 7,6 SR Landa Timur Turki

Irwan Nugroho - detikNews

Ankara - Gempa besar mengguncang bagian timur laut Turki. Gempa berkekuatan 7,6 SR tersebut terjadi di 35 Km timur laut Kota Van, Turki.

Gempa terjadi pukul 10.41 Waktu setempat dengan kedalaman 94,5 Km. Demikian lansir US Geological Survey dan dikutip reuters, Minggu (23/10/2011).

Belum diketahui dampak dari peristiwa alam tersebut. Tidak ada pula peringatan potensi terjadinya tsunami yang dikeluarkan oleh badan geologi AS tersebut.

Van adalah kota di Turki yang dekat dengan perbatasan Iran.

Korban Tewas Gempa Turki Diperkirakan 500-1.000 Orang


Ankara - Gempa besar yang mengguncang timur laut Turki menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Observatorium Gempa Kandilli memperkirakan 500-1.000 orang tewas akibat gempa tersebut.

Gempa sebesar 6,6 SR itu menghentak timur Provinsi Van. US Geological Survey menyebut gempa itu berkekuatan 7,6 SR dan terjadi di kedalaman 94,5 Km.

"Kami memperkirakan ratusan orang meninggal. Bisa 500-1.000 orang," kata Direktur Observatorium Kandilli, Mustafa Erdik, seperti dikutip reuters, Minggu (23/10/2011).

Pejabat di Kantor Perdana Menteri Turki membenarkan gempa yang terjadi pada pukul 10.41 waktu setempat itu menyebabkan kematian warga. Di samping itu, beberapa bangunan juga dilaporkan roboh digoyang gempa.

Deputi PM Turki, Besir Atalay, menambahkan, setidaknya 10 bagunan di Kota Van serta 25-30 bagunan di dekat distrik Ercis hancur.

Sementara reporter reuters di Hakkari, kota yang berjarak 100 Km selatan Van, melaporkan, gempa terasa cukup kuat di tempatnya berada. Dia dapat merasakan gedung bergoyang selama kurang lebih 10 detik.
Namun, tidak ada korban jiwa di Hakkari.

Dua gempa besar pernah melanda Turki pada tahun 2009 lalu. Gempa tersebut menyebabkan 20,000 warga Turki meninggal dunia.

Penambangan nikel ancam kawasan hutan konservasi

Kendari (ANTARA News) - Aktivitas penambangan nikel tidak terkendali mengancam keberadaan kawasan hutan konservasi suaka marga satwa Lambusango di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mahasiswa penggiat lingkungan yang tergabung dalam Green Student Movement Sultra, milisi mahasiswa rakidal dan lembaga bantuan hukum Buton Raya menyampaikan keprihatinan di gedung DPRD Sultra.

"Ada apa PT Bumi Buton Delta Megah masih melakukan kegiatan penambangan, padahal bupati Buton sudah mengeluarkan surat penghentian sementara kegiatan usaha karena melalaikan beberapa kewajiban," kata orator wanita Lansi (20).

Pada tanggal 26 September 2011 Bupati Buton Syafei Kahar (sekarang mantan Bupati Buton, red) menerbitkan surat penghentian sementara kegiatan usaha PT Bumi Buton Delta Megah karena melalaikan kewajiban sebagaimana tercantum dalam izin usaha pertambangan.

PT Bumi Buton Delta Megah yang mengantongi izin usaha diatas lahan seluas 675 hektare berada dalam kawasan hutan produksi yang berbatasan dengan kawasan suaka margasatwa Lambusango yang memiliki luas 27.700 hektare.

Pada areal pertambangan ini terdapat aliran sungai Lambusango yang merupakan sumber utama air bersih bagi masyarakat setempat.

Dalam pernyataan sikap pengunjukrasa yang pulang dengan kekecewaan karena tidak satu pun anggota dewan yang menemui mereka menuliskan bahwa PT Bumi Buton Delta Megah melanggar UU nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran.

"Dinas Perhubungan Sultra harus melakukan investigasi karena kegiatan pengangkutan atau pengapalan nikel PT Bumi Buton Delta Megah tidak didukung sarana pelabuhan khusus," kata koordinator lapangan Sabaruddin La Ure.
(S032)

Kemenhut perkenalkan mikoriza percepatan rehabilitasi hutan

Gorontalo (ANTARA News) - Kementrian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia perkenalkan jamur mikoriza untuk percepatan rehabilitasi hutan kepada masyarakat yang datang berkunjung ke pameran tekhnologi terkait dengan pelaksanaan Hari Pangan Sedunia ke XXI di Provinsi Gorontalo.

Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi Badan Litbang Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, Didik Purwito, Sabtu, di Gorontalo mengatakan bahwa kerusakan hutan pasca pertambangan banyak terjadi dan membutuhkan solusi yang tepat.

Untuk menjawab itu maka Kementrian Kehutanan Republik Indonesia mencoba untuk mengembangkan sebuah tekhnologi baru terkait dengan persoalan rehabilitasi hutan pasca pertambangan.

"Yang sudah berhasil dikembangkan saat ini kita namakan dengan tekhonologi Biorehabilitasi Mikoriza," ujar Didik.

Dia menjelaskan, dasar pokok dari pengembangan Jamur Mikoriza tersebut adalah simbiotik mutualisme yang merupakan kerja sama saling menguntungkan antara tanaman hutan sebagai inang dan mikroba tanah.

Sistem kerja dari simbiotik mutulisme adalah inang dalam pertumbuhan hidupnya mendapatkan sumber makanan lebih banyak dari dalam tanah dengan bantuan penyerapan lebih luas dari organ-organ mikroba.

"Dengan kata lain, karena hanya inang yang berfotosintesa maka sebagai imbalannya mikroba tanah mendapatka aliran energi untuk hidup dan berkembang biak," kata Didik.

Dia mengemukakan, jamur mikoriza mampu memacu pertumbuhan banyak jenis tanaman kehutanan dan pertanian sehingga proses rehabilitasi bisa lebih menghemat waktu.

Saat ini kata Didik, jamur mikoriza baru diperkenalkan dan akan digunakan oleh sejumlah perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia.

Kamis, 20 Oktober 2011

Diduga Benda Luar Angkasa Jatuh di Nunukan


TRIBUNNEWS.COM,NUNUKAN - Benda luar angkasa yang belum diketahui jenisnya jatuh di Nunukan, Kalimantan Timur, Selasa malam dan Rabu (19/10/2011) subuh tadi.

Benda yang jatuh tersebut menyisakan serpihan batu dan sebuah kubangan melingkar rapi berdiameter sekitar 2 meter dengan kedalaman lebih satu meter.

Di dinding kubangan terlihat seperti bekas pahatan yang begitu rapi. Kubangan itu terlihat sangat jelas sejak siang ini saat air laut surut.

Kubangan yang berada di pinggir pantai berlumpur liat, di sekitar Ruko Tanah Merah, Kecamatan Nunukan itu menjadi tontonan ribuan warga.

Untuk menjaga agar lubang tersebut tidak rusak, polisi memasang garis polisi sekitar lubang. Sejumlah Polisi dan anggota TNI serta Satuan Polisi Pamong Praja tampak berjaga di sekitar kubangan.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan Taruna Mona yang ditemui Tribun Kaltim.Co.Id, di lokasi menyebutkan, secara kilas mata kubangan itu menunjukkan bekas tempat jatuhnya benda angkasa.

“Apakah dia meteor atau bekas satelit tentu perlu melihat dan menggali lagi,” ujarnya.

Serpihan dan kubangan itu, menurutnya, perlu menurunkan tim dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).


Selasa, 18 Oktober 2011

Efek rumah kaca dan dampak terhadap lingkungan

Padang (ANTARA News) - Sebagian besar masyarakat dunia, khususnya di Indonesia tentu telah merasakan perubahan suhu dan cuaca yang terjadi sejak dua puluh tahun terakhir.

Perubahan cuaca secara ekstrim terjadi akibat dampak pemanasan global yang lebih disebabkan faktor peningkatan emisi karbon akibat pembakaran bahan bakar fosil, menimbulkan kecenderungan terhadap efek gas rumah kaca.

Negara-negara industri maju dan berkembang, dituntut untuk melakukan aksi nyata pengurangan emisi karbon dan kecenderungan peningkatan efek rumah kaca.

Protokol Kyoto merupakan sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang menyetujui untuk menerapkannya, dituntut berkomitmen untuk mengurangi emisi atau pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.

Melalui Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 derajat celcius dan 0,28 derajat celcius pada tahun 2050.

Sementara, pemerintah Indonesia menargetkan hingga 2020 penurunan gas karbon dan emisi gas rumah kaca dapat mencapai 26 persen, guna menanggulangi penyebab kerusakan Ozon.

Dari 26 persen upaya penurunan gas karbon dan emisi gas rumah kaca, 14 persen diantaranya dilakukan melalui reboisasi dan pencegahan menurunnya luas hutan secara signifikan.

Selanjutnya, enam persen upaya penurunan gas karbon dan emisi gas rumah kaca, dilakukan melalui kebijakan untuk mengefesiensikan penggunaan energi yang tidak dapat terbarukan dengan konsep pembangunan rumah atau gedung yang banyak masuk cahaya, sehingga penggunaan listrik dapat dihemat.

Enam persen lagi upaya penurunan dampak emisi gas karbon melalui pengolahan limbah domestik, limbah cair dan B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Menurut Guru Besar Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang Prof. Dr. Eri Barlian, M.Si perubahan suhu secara kasat mata memang tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar.

"Suhu semakin panas, terik matahari di siang hari yang menyengat. Terkadang di siang hari sengatan matahari begitu terik, di sorenya tiba-tiba saja hujan lebat mengguyur. Inilah yang disebut dengan cuaca ekstrim, yang melanda sebagian besar belahan dunia, termasuk Indonesia yang merupakan efek rumah kaca tersebut," katanya di Padang, Minggu.

Di Sumatera Barat yang 80 persen kawasannya adalah perbukitan dan hutan tropis, efek rumah kaca juga telah dirasakan sejak lima tahun terakhir.

Ia menjelaskan, efek rumah kaca merupakan istilah atau dalam bahasa inggris disebut dengan "green house effect". Istilah itu berasal dari pengalaman para petani yang tinggal di daerah beriklim sedang, yang memanfaatkan rumah kaca untuk menanam sayuran dan juga bunga-bungaan.

Mengapa para petani menanam sayuran di dalam rumah kaca? Karena di dalam rumah kaca suhunya lebih tinggi dari pada di luar rumah kaca, katanya.

Suhu di dalam rumah kaca bisa lebih tinggi, karena cahaya matahari yang menembus kaca akan dipantulkan kembali oleh benda-benda di dalam rumah kaca sebagai gelombang panas yang terperangkap dan tidak bercampur dengan udara dingin di luar ruangan.

"Dari pengalaman para petani itulah dikaitkan dengan apa yang terjadi pada bumi dan atmosfir, sehingga muncullah istilah efek rumah kaca," katanya.

Lapisan atmosfir paling bawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek rumah kaca. Sekitar 35 persen dari radiasi matahari tidak sampai ke bumi. Sisanya yang 65 persen masuk ke dalam troposfir.

Dari 65 persen cahaya matahari yang ada di troposfir sekitar 51 persen radiasi sampai ke permukaan bumi. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap oleh tumbuhan, tanah dan air laut dan sebagian dipantulkan.

"Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah," katanya.

Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H20, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik.

"Dari kondisi itu maka terjadilah efek rumah kaca. Sementara gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca," katanya.

Menurut dia, efek rumah kaca itu sangat penting karena jika tidak ada efek rumah kaca, maka suhu rata-rata bumi bisa mencapai minus 180 derajat celcius. Jadi dengan adanya efek rumah kaca menjadikan suhu bumi layak untuk kehidupan manusia.

Suhu meningkat panas yang terjadi saat ini diakibatkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca secara global akibat kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak termasuk pembakaran lahan dan hutan.

"Hal tersebut merupakan penyebab dominan pemanasan global yang terjadi saat ini," katanya.

Pengurangan dampak negatif
Menurut Koordinator Pusat Studi Lingkungan Wilayah I Sumatera Prof Dr Ir Nasfryzal Carlo MSc, ancaman tersebut sudah dirasakan dengan fakta-fakta menunjukan bahwa, pertama, es di kutub utara dan selatan telah mencair sehingga menambah volume dan permukaan air laut yang akhirnya membawa dampak banjir rob tanpa turunnya hujan.

"Fakta kedua, pola hujan berubah-ubah; dulu guru kita mengajarkan bahwa musim hujan dimulai pada September hingga Maret dan musim kemarau pada April-Agustus. Tetapi, kini pada bulan yang berakhiran `ber` beberapa tempat tidak terjadi hujan bahkan terjadi musim kemarau sehingga masyarakat sulit mencari air," katanya.

Ia menyebutkan, dari hasil penelitian ditemukan bahwa musim kemarau mengalami percepatan 40 hari dan musim hujan mundur sampai 40 hari.

Artinya, kemarau menjadi lebih lama 80 hari dan musim hujan berkurang 80 hari. Dengan demikian, prediksi kedatangan musim hujan ataupun kemarau sulit ditentukan, dan mengakibatkan kerugian bagi petani akibat tidak tepatnya dalam penentuan musim tanam.

"Fakta ketiga, sering terjadinya gelombang El Nino dan La Nina," katanya.

El Nino menyebabkan kekeringan dan suhu yang lebih panas dan terjadinya serangan gelombang panas. Sedangkan La Nina merangsang peningkatan curah hujan di atas normal, katanya.

Fakta lain, lanjut dia, mencairnya gletser-gletser sebagai cadangan air dunia. Terakhir, perubahan iklim juga dituding sebagai penyebab berkembangnya serangga ulat bulu (desiciria inclusa) di Probolinggo yang juga sudah sampai di Sumbar.

Menurut Nasfryzal Carlo yang juga Direktur Pascasarjana Universitas Bung Hatta Padang, ada enam gas yang dinyatakan sebagai gas rumah kaca dengan kondisi berbeda memerangkap panas dan meningkatkan suhu udara, samudera, dan permukaan bumi.

Polutan pertama adalah karbondioksida (CO2) dari pembakaran batu bara untuk listrik dan pemanas, pembakaran produk dari fosil seperti bensin, solar, bahan bakar pesawat pada kegiatan transportasi dan industri.

"CO2 juga berasal dari akibat perubahan tata guna lahan yang disebabkan karena kebakaran hutan, pembukaan hutan akibat eksplotasi dan eksplorasi dalam pertambangan," katanya.

Penyebab kedua adalah metana yang dibuat manusia dari aktivitas pertanian, kotoran ternak, penanaman padi, dan dari limbah organik di tempat pembuangan sampah.

"Jelaga atau karbon hitam yang berasal dari pembakaran kayu, kotoran hewan dan sisa-sisa tanaman pangan untuk memasak dan pabrik batu bata menjadi penyebab ketiga pemanasan global," katanya.

Penyebab keempat, lanjut dia, berasal dari bahan-bahan kimia khloroflorokarbon (CFC) yang banyak dijumpai pada peralatan pendingin (kulkas, AC) dan tabung penyemprot parfum.

Karbon monoksida dan senyawa organik yang mudah menguap volatile organic compound (VOC) merupakan penyebab pemanasan global kelima.

Karbon monoksida, katanya, paling banyak dihasilkan dari knalpot mobil-mobil dan motor di jalan raya. VOC berasal dari proses-proses industri dunia.

Penyebab terakhir adalah nirus oksida yang berasal dari proses pertanian yang mengandalkan pupuk nitrogen atau pupuk amonia yang berbahan dasar kimia.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Abu vulkanik Gunung Marapi jangkau Sungaipuar

Bukittinggi (ANTARA News) - Abu vulkanik Gunung Marapi menjangkau sebagian besar Nagari Sungaipuar, Kecamatan Sungaipuar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Sabtu, yang berjarak sekitar 100 kilometer arah Barat gunung.

Abu yang disemburkan gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dapat terlihat bekasnya di jemuran atau dedaunan.

Warga Jorong Kubu Sawah Ruciang, Nagari Sungaipuar, Mak Sima, menyebutkan, kain yang dia jemur di halaman rumah diselimuti abu vulkanik sejak Sabtu pagi sekitar pukul 10.00 WIB.

"Beberapa minggu yang lalu, abu dari Gunung Marapi juga menyelimuti kain yang dijemur warga," katanya.

Warga lainnya, Yulia Ningsih menyebutkan, abu vulkanik dilihat menempel di sepeda motor yang dia pakir di luar rumah.

"Abu berwarna kehitam-hitaman itu menempel di motor saya," katanya.

Dia menyebutkan, sebelum abu vulkanik menyelimuti motor didengarnya suara letusan yang berasal dari arah Gunung Marapi.

"Sekitar 15 menit setelah letusan, terlihat abu menempel di motor. Ketika dilihat ke arah puncak gunung, tidak terlihat karena tertutup kabut asap," ucapnya.

Ia mengemukakan, gumpalan asap hitam sering terlihat dari kawah gunung pada pagi hari sejak gunung itu mengeluarkan abu vulkanik sebulan yang lalu, tapi abu vulkanik tidak pernah sampai ke Sungaipuar.

Petugas pengamatan Gunung Marapi Badan Geologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB) Bukittinggi, Warseno, membenarkan Gunung Marapi mengeluarkan abu vulkanik.

Menurut dia, sebaran abu vulkanik telah menjangkau beberapa kabupaten/kota di Sumatera Barat, seperti Agam, Tanahdatar, Padangpanjang.

"Kita mengingatkan agar masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Marapi meningkatkan kewaspadaan," katanya.

BGPVMB masih menetapkan status waspada level II kepada Gunung Marapi. Masyarakat dan para pendaki dilarang melakukan pendakian sampai tiga kilometer dari puncak.

Gunung Marapi mengalami peningkatan aktivitas pada tanggal 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB dan sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang mencapai 1.000 meter dan menjangkau ke sejumlah daerah di Sumbar, seperti Agam, Tanahdatar, Padangpariaman, Padangpanjang. (*)

Kamis, 13 Oktober 2011

Sehari, Gempa 10 Kali Guncang Bali

Jpnn
MANGUPURA
– Bali diguncang gempa Kamis (13/10) kemarin siang hingga sore. Tak tanggung-tanggung, gempa terjadi hingga 10 kali dari gempa pertama pada pukul 11.16 Wita dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR). Hingga yang terakhir pukul 15.52 Wita dengan kekuatan 5,6 SR.

"Sudah 10 kali gempa. Sampai saat ini, yang 5,6 SR itu yang terakhir," kata Kepala Bidang Informasi dan Data Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah VIII di Tuban, Badung, Endro Tjahjono kepada Radar Bali (JPNN Grup) Kamis (13/10) petang.

Menurut Endro, gempa pertama terjadi pukul 11.16 Wita di lokasi 9,89 LS, 114.53 BT, atau 143 kilometer barat daya Nusa Dua dengan kedalaman 10 kilometer. Kata dia, gempa susulan terus terjadi dalam waktu yang tidak beraturan. Namun di lokasi yang berdekatan. Walau demikian, pukul 15.52 Wita dengan kekuatan 5,6 SR kembali mengguncang di lokasi 9,76 LS, 114,53 BT atau 131 kilometer badat daya Nusa Dua.

"Jaraknya masih berdekatan," terang dia.

Endro menjelaskan, meski masyarakat Bali begitu merasakan guncangan hebat, gempa ini tidak menimbulkan gelombang tsunami. Dikatakan, terciptanya gelombang tsunami harus memenuhi empat syarat, yakni gempa terjadi di laut, berupa gempa dangkal, patahan vertikal, dan kekuatan gempa di atas 7 SR. Nah, untuk gempa ini, syarat pertama sampai ketiga sudah terpenuhi. Namun, masih beruntung karena kekuatan gempa itu hanya 6,8 SR. Sehingga, sejumlah sirine tsunami yang di pasang di sejumlah pesisir Badung tidak dibunyikan.

"Untung saja satu syarat (terjadinya tsunami, Red) tidak terpenuhi. Yaitu kekuatannya tidak sampai 7 SR," jelasnya.

Walau tidak sampai menciptakan gelombang tsunami, Endro mengatakan gempa ini mengakibatkan banyak kerusakan. Dijelaskan, bila dihitung dengan skala Modified Mercally Intensity (MMI), maka Kawasan Kuta dan Denpasar mendapat guncangan paling kuat. Yakni antara IV-V MMI. Sedangkan, semakin jauh dari episentrum gempa, getarannya semakin melemah. Seperti di Nusa Tenggara Barat, gempa di Nusa Dua itu hanya sekitar III-IV MMI atau seperti getaran truk besar lewat. Gempa ini juga dirasakan di sejumlah kota di Jawa Timur termasuk Madura maupun Jawa Tengah dan Jogjakarta dengan skala MMI yang berbeda-beda.

"Getarannya berbeda-beda. Di Kuta antara IV sampai V MMI. Sampai Lombok melemah hanya III sampai IV MMI," jelas dia.

Secara kasat mata, gempa di barat daya Nusa Dua ini mengakibatkan banyak kerusakan. Bahkan, gedung kantor BBMKG di Jalan Raya Tuban, Kuta ini mengalami kerusakan. Temboknya retak-retak, kaca jendela retak, dan plafon di lantai 2 ambruk.

Walau demikian, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) IGN Adnyana menyebutkan hanya wilayah Kuta yang sedikit mengalami kerusakan. Bahkan, di kawasan Nusa Dua yang paling dekat dengan pusat gempa dinyatakan bebas dari kerusakan ataupun korban.

"Tidak ada yang mengalami kerusakan berat," kata Adnyana.

Jelas saja, pernyataan Adnyana ini bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Sebab, pantauan koran ini dan data yang dihimpun dari Bidang Linmas Kesbangpolinmas Badung, serta sejumlah sumber menyebutkan bahwa kerusakan banyak terjadi di hampir seluruh kecamatan di Badung.

Di Kuta Selatan, Lurah Benoa Wayan Solo menyebutkan kalau parba padmasana di Pura Puja Mandala jatuh dan menimpa lampu penerangannya. Selanjutnya, di Kuta sejumlah gedung perbelanjaan, perkantoran, sekolah, dan lainnya rusak berat. Bahkan, di pusat perbelanjaan Carrefour di Jalan By Pas Sunset Road rusak berat hingga ada salah satu pengunjungnya yang terjun dari lantai atas. Wilayah kecamatan lain, baik Kuta Utara, Mengwi dan Abiansemal banyak rumah dan gedung rusak, termasuk pura. (selengkapnya lihat data)

Gempa yang terjadi di siang bolong ini tentu membuat masyarakat panik. Siswa di sejumlah sekolahan lari tunggang-langgang begitu gempa terjadi. Di gedung perkantoran juga demikian. Bahkan, para warga yang sedang mengikuti program E-KTP (KTP elektronik) dibuat panik.

"Sempat panik juga. Tapi pelayanan E-KTP kami lanjutkan setelah kami rasa aman," kata Camat Kuta Selatan Wayan Wijana.

Kepanikan juga terjadi di Pantai Kuta. Sejumlah wisatawan yang sedang berjemur atau duduk-duduk di pantai dibikin kaget dengan guncangan hebat. Sontak, mereka berdiri dan saling bertanya. Yang sedang mandi di pantai pun bergegas naik ke pasir.

"Memang sampai mengagetkan. Tapi wisatawan kembali seperti biasa. Tidak ada himbauan untuk meninggalkan pantai," jelas Ketua Satgas Pantai Kuta IGN Tresna. (yor)

KamGempa 6,8 SR di Bali Turis Asal Jepang Luka Ringan

Jpnn
JAKARTA
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, tidak ada korban yang meninggal akibat gempa 6,8 SR di Bali.

"Hanya 43 orang luka ringan, tiga orang cedera kepala, satu patah tulang, 39 luka ringan. Semua dirawat di RS Sanglah Kota Denpasar. Sebagian sudah dibawa pulang rumah masing-masing," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho kepada JPNN, Kamis (13/10).

Gempa yang terjadi pada pukul 10.16 WIB dengan lokasi 9.89 LS - 114.53 BT (143 KM Barat Daya Nusa dua Bali) juga mengakibatkan kerugian material di antaranya, delapan unit rumah, tujuh kantor pemerintah daerah, satu rumah sakit, dua pura, 12 sekolah, serta satu fasilitas umum/hypermarket mengalami rusak ringan.

"Kerusakan tersebut tersebar di Denpasar, Gianyar, Bangli, Badung, Tabanan, dan Jembrana," ujar Sutopo.

Bahkan kata Sutopo para murid dan guru yang tengah melakukan kegiatan belajar-mengajar juga menjadi korban gempa. Di beberapa sekolah seperti, SMK I Sidareja, 12 murid dan tiga guru luka ringan, serta 25 murid dan empat guru di SMK 2 Denpasar mengalami hal serupa.

"Semua murid sekolah di Denpasar dipulangkan pasca gempabumi. Dilaporkan terdapat 1 orang warganegara Jepang yang luka ringan dan tidak sampai dirujuk ke rumah sakit di Gianyar," jelasnya.

Dikatakan Sutopo, gempa yang terjadi tidak hanya dirasakan di Provinsi Bali, tetapi juga sampai terasa ke empat provinsi yang berdekatan dengan pulau Bali. "Getaran dirasakan hampir seluruh Bali, dan sebagian Jawa Timur, Lombok, NTB dan NTT," tandas Sutopo. (kyd/jpnn)

19 bangunan rusak akibat gempa

Denpasar (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Denpasar, Bali, mencatat sekitar 19 bangunan rusak akibat gempa 6,8 skala richter Kamis pukul 10.16 Wita.

Kepala BPBD Kota Denpasar Sudana Satri Graha mengatakan, hasil pengecekan menunjukkan ada delapan gedung sekolah yang rusak, namun yang terparah yakni gedung sekolah milik SMKN 2 Denpasar.

"Yang paling parah dialami SMKN 2 Denpasar, hampir semua genteng atap rontok," katanya.

Gempa tersebut berpusat di laut sekitar 143 km barat daya Nusa Dua Bali dengan kedalaman 10 kilometer.

Bangunan yang rusak tersebut yakni delapan sekolah, gedung DPRD Kota Denpasar, gedung Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Museum Alam Puri Penatih, Pos Pemadam Kebakaran Juanda, Satu Rumah sakit, dan enam rumah milik warga yang ada di empat kecamatan di Kota Denpasar.

"Semuanya mengalami kerusakan pada tembok dan gentingnya berjatuhan," ujarnya.

Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara, usai meninjau lokasi kerusakan juga para korban luka yang dirawat di RSUP Sanglah, menggelar rapat koordinasi dengan BPBD, PU, KesbangLinmaspol, Seluruh Camat, Disnakertransos, Disdikpora.

"Kami sudah meminta seluruh SKPD di Kota Denpasar untuk melakukan tanggap darurat. Semua potensi yang ada harus dikerahkan untuk meringankan korban gempa," katanya.

Pemerintah Kota Denpasar juga segera melakukan perbaikan gedung-gedung sekolah yang rusak melalui Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kota Denpasar.

"Kami juga sudah perintahkan mulai besok sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan segera diperbaiki sehingga kegiatan belajar mengajar tidak terganggu," ujarnya.

Selain berjanji untuk membatu perbaikan bangunan yang rusak, Pemkot Denpasar juga akan menanggung biaya pengobatan dan perawatan para korban gempa di Kota Denpasar.

"Kami memang ada dana khusus tanggap darurat, yang akan kami gunakan untuk membantu para korban. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit Sanglah untuk teknis penanganan dana yang dibutuhkan," kata Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara seusai menjenguk korban gemba di RSUP Sanglah Denpasar.

BMKG: Bali diguncang 10 kali gempa susulan

Denpasar (ANTARA News) - Setelah gempa besar 6,8 skala richter pada pukul 11.16 Wita, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi sedikitnya 10 gempa susulan yang mengguncang wilayah Bali hingga Kamis sore.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana menyatakan, sejak gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter (SR) Kamis pukul 11.16 Wita, wilayah Bali diguncang 10 kali gempa susulan hingga sore hari.

"Berdasarkan pantauan kami sampai saat ini sudah terjadi 10 kali gempa susulan. Akan tetapi, yang guncangannya sangat terasa pada gempa susulan ke-10," kata Kepala BMKG Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana ketika dihubungi ANTARA.

Suwardana menjelaskan, gempa susulan ke-10 itu terjadi pada pukul 15.52 Wita dengan kekuatan 5,6 SR.

Lokasi gempa susulan ke-10 itu berada pada 9,76 derajat Lintang Selatan dan 114,53 derajat Bujur Timur atau tidak jauh dari gempa yang terjadi pada pukul 11.16 Wita.

"Sama seperti gempa utama, gempa susulan itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami," ujarnya kembali menandaskan.

Suwardana menambahkan, saat ini pihaknya terus memantau perkembangan dan kondisi terakhir kegempaan.

Namun hingga berita ini ditulis, pihaknya belum mendapatkan laporan, apakah telah terjadi gempa susulan lagi atau tidak.

Terkait kondisi air laut di wilayah selatan Pulau Bali yang meninggi, menurut dia, bukan disebabkan terjadinya gempa yang membuat panik masyarakat setempat.

"Penyebab tingginya air laut di wilayah tersebut kemungkinan karena faktor angin yang kencang serta cuaca," kata Suwardana.

Sementara, gempa susulan ke-11 sempat dirasakan para penumpang di ruang tunggu terminal keberangkatan domestik Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Tuban, Kabupaten Badung.

Meskipun penumpang di terminal ruang tunggu sempat heboh, namun mereka tidak panik sehingga tidak sampai mengacaukan sistem pemeriksaan terhadap penumpang di bandara tersebut.

Bali Gempa 6,8 SR, Kedalaman 10 Km

VIVAnews - Gempa berkekuatan 6,8 skala richter mengguncang Pulau Dewata. Gempa besar itu berpusat di kedalaman 10 kilometer dari permukaan laut.

Informasi yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa berkekuatan 6,8 SR terjadi sekitar pukul 10.16 WIB di Nusa Dua, Bali, Kamis 13 Oktober 2011.

Episentrum gempa diketahui berada di lokasi 9.89 Lintang Selatan dan 114.53 Bujur Timur. Pusat gempa berada pada jarak 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua, Bali.

Belum diketahui adanya data korban jiwa, kerusakan atau korban luka akibat gempa ini. Juga belum ada informasi akan adanya gelombang tsunami atau tidak.

Tanggal 10 Maret 2011 lalu, Bali juga pernah dilanda gempa. Skalanya saat itu 6,6 Skala Ricther. Gempa pada Maret lalu itu membuat sejumlah wisatawan panik. Getaran gempa saat itu terasa hampir satu menit.

"Tidur seperti digoyang-goyang," kata Nur Farida Ahniar, wartawan VIVAnews.com yang tengah berada di kawasan Nusa Dua, Bali, Jumat, 10 Maret 2011 dini hari. Nur mengisahkan bahwa sesudah bangun, ia melihat
kaca-kaca di kamar hotel bergetar.

Lemari kayu berbunyi derit. Sejumlah penghuni hotel juga berlari keluar. Namun, setelah getaran hilang, mereka segera masuk kembali ke hotel.

Meteor Hantam Atap Rumah Warga

VIVAnewes - Setelah memperbaiki atap rumah yang bocor, keluarga Comette yang tinggal di Draveil, kawasan di sekitar selatan Paris, Prancis mendapati bahwa rumah mereka ternyata telah dihantam oleh benda yang bukan berasal dari planet Bumi.

Martine Comette, 32 tahun, sang pemilik rumah, kemudian menghubungi Alain Carion, seorang ahli mineral untuk menginvestigasi batu aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya itu.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Carion, ternyata penyebab kerusakan atap rumah keluarga Comette itu merupakan meteorit berbobot sekitar 100 gram dan diperkirakan berusia 4,57 miliar tahun.

“Ini sangat langka. Kita hanya kejatuhan sekitar 50 meteor di seluruh Prancis selama empat abad terakhir,” kata Carion, seperti dikutip dari Guardian, 11 Oktober 2011. “Kami belum pernah menemukan kejadian seperti ini di dalam radius 80 kilometer dari Paris,” sebutnya.

Meteorit yang ditemukan itu sendiri adalah chondrite, semacam batu ruang angkasa dan merupakan bentuk meteorit yang paling umum. Ia terbentuk dari debu yang mengawali lahirnya sistem tata surya kita.

Dari kompisisi mineral yang dimiliki oleh meteorit yang jatuh di Prancis tersebut, diperkirakan batu tersebut berasal dari sabuk asteroid yang ada di antara Mars dan Jupiter.

Selasa, 11 Oktober 2011

Gunung Marapi masih keluarkan asap

Bukittinggi (ANTARA News) - Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Tanahdatar dan Agam, Sumatera Barat terlihat masih mengeluarkan asap hitam pada Senin sekitar pukul 21.30 WIB.

Pantauan ANTARA Senin malam asap hitam yang keluar dari gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut (mdpl) ini jelas terlihat di Nagari Sungaipuar, Kabupaten Agam.

Yulia Ningsih, warga Sungaipuar, mengatakan, asap hitam yang dimunculkan gunung berlangsung cukup lama.

"Gumpalan asap itu membubung tinggi dari puncak gunung. Gumpalan asap itu terlihat jelas karena cuaca malam ini sangat cerah," katanya.

Ia menambahkan, gunung tersebut pada Minggu (9/10) pagi juga mengeluarkan asap hitam dengan ketinggian sekitar 50 meter. Kemudian pada Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB gunung tersebut kembali menyembur asap hitam.

"Gempa vulkanik dibandingkan beberapa hari sebelumnya mulai berkurang. Setidaknya terjadi kegempaan sebanyak 14 kali, baik gempa tremor dan gempa embusan," kata petugas Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB), Warseno.

Dia menyebutkan, meski aktivitas vulkanik mulai menurun, namun letusan mengalami peningkatan, yaitu 111 kali dari tanggal 1 - 8 Oktober 2011.

"Letusan Gunung Marapi menyemburkan abu vulkanik menuju Tenggara atau ke daerah Pariangan dan Simabur, Kabupaten Tanahdatar," katanya.

Letusan gunung secara kualitas masih sama dibandingkan beberapa hari sebelumnya, dengan ketinggian berkisaran 100 - 600 meter.

Penurunan aktivitas vulkanik Gunung Marapi tersebut, belum disertai penurunan status waspada level II yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Masyarakat tetap dilarang untuk mendekati gunung sampai radius tiga kilometer dari puncak.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung tidak usah khawatir gunung akan meletus, karena kondisi gunung belum menunjukkan tanda-tanda ke arah itu," katanya.

Salah satu gunung api aktif di Sumbar ini telah mengalami peningkatan aktivitas sejak 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB.

Gunung ini sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang berketinggian 1.000 meter dan menjangkau sejumlah daerah di Sumbar, seperti Agam, Tanahdatar, Padang Pariaman, dan Padangpanjang. (ANT-205/Z002)

Menteri LH minta perusahaan terapkan "green economy"

Batam (ANTARA News) - Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta meminta seluruh perusahaan di Indonesia menerapkan konsep "green economy" atau "ekonomi hijau" untuk meminimalkan kerusakan lingkungan.

"Efek kerusakan lingkungan dari setiap kegiatan perusahaan terutama industri pasti ada. Namun hal tersebut bisa diminimalkan bila seluruh perusahaan mau melaksanakan konsep ekonomi hijau," kata Meneg LH di Bandara Hang Nadim Batam setelah meninjau beberapa kawasan industri bersama Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Sabtu

Menurut Gusti, ekonomi hijau atau pengimbangan laju ekonomi dengan upaya konservasi lingkungan alam dan melahirkan paradigma ekonomi yang memasukkan aspek lingkungan ke dalamnya dapat mengurangi efek buruk dari kegiatan industri perusahaan yang bisa menurunkan kualitas udara dan kerusakan ekosistem alam.

"Dengan penerapan ekonomi hijau, efek industri yang mengancam lingkungan dan manusia bisa ditekan sehingga kerusakan lingkungan mampu diminimalkan," tambah dia.

Kebanyakan negara dan pemangku kepentingan, kata Menteri, meyakini bahwa ekonomi hijau adalah solusi bagi masalah kerusakan lingkungan serta dapat membawa kehidupan dan peradaban global menjadi lebih baik, berkeadilan, sejahtera, dan berkesinambungan.

"Konsep ekonomi hijau dilaksanakan untuk mendukung pembangunan nasional yang bersifat pro-lapangan kerja, pro-pertumbuhan dan pro-lingkungan", kata Menlh Gusti.

Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya mulai menampilkan dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup, kata menteri.

"Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia sendiri," ucap Gusti.

Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan yang perlu diperhatikan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi global.

Gusti mengatakan, konsep ekomomi hijau yang diterapkan di Indonesia tersebut pernah disampaikan dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Global ke-56 di Kenya pada Februari lalu yang diikuti 52 Menteri Lingkungan Hidup seluruh dunia.

"Konsep ekonomi hijau juga ditujukan untuk mencapai target pertumbuhan berkelanjutan sebesar tujuh persen dan penurunan emisi karbon 26-40 persen pada 2020," kata menteri.

Kepala BP Batam, Mustofa Wijaya berharap imbuan menteri tersebut bisa diterapkan sehingga kerusakan lingkungan bisa dicegah.