Positive Thinking

Positive Thinking Akan Sangat Membantu Pola Pikir Kita Dalam Berkomunikasi Antara Kita Serta berkreasi Maupun Dalam Menunjang Aktivitas Kita

Senin, 25 April 2011

Gempa Susulan Guncang Kendari

Jakarta (ANTARA News) - Gempa susulan dengan kekuatan 5,2 Skala Richter (SR), Senin pagi, kembali mengguncang Kendari, Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut terjadi pada pukul 06.25 WIB.

Pusat gempa berada pada 4.11 derajat lintang selatan (LS) dan 122.61 bujur timur (BT) dengan kedalaman 20 kilometer.

Lokasi pusat gempa 16 kilometer tenggara Kendari, Sulawesi Tenggara, 150 kilometer timur laut Baubau, Sulawesi Tenggara, 226 kilometer tenggara Soroako, Sulawesi Selatan, dan 287 kilometer tenggara Singkang, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya pada pukul 06.07 WIB, gempa dengan kekuatan 6,0 Skala Richter (SR), tercatat mengguncang Kendari, Sulawesi Tenggara.

Pusat gempa berada pada 4.40 derajat lintang selatan (LS) dan 122.82 bujur timur (BT) dengan kedalaman 18 kilometer.

Lokasi pusat gempa 55 kilometer tenggara Kendari, Sulawesi Tenggara, 120 kilometer timur laut Baubau, Sulawesi Tenggara, 265 kilometer tenggara Soroako, Sulawesi Selatan, dan 312 kilometer tenggara Singkang, Sulawesi Selatan.

BMKG menyebutkan kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. (S034/A011/K004)

Pascagempa Warga Kendari Berhamburan Keluar Rumah

Kendari (ANTARA News) - Warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, berhamburan keluar rumah karena gempa bumi berkekuatan 6,0 skala Richter mengguncang seluruh wilayah itu sekitar pukul 07.07 Wita, Senin.

Berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa di 4.40 derajat lintang selatan (LS) dan 122.82 bujur timur (BT) dengan kedalaman 18 kilometer.

Lokasi pusat gempa yang di catat BMKG setempat yakni 55 kilometer tenggara Kendari, Sulawesi Tenggara, 120 kilometer timur laut Baubau, Sulawesi Tenggara, 265 kilometer tenggara Soroako, Sulawesi Tengah dan 312 kilometer tenggara Sengkang, Sulawesi Selatan.

Pantauan ANTARA, beberapa sekolah dasar (SD) tampak ada yang sengaja meliburkan siswanya dan kuatir, jangan-jangan masih terjadi gempa susulan.

Hingga berita ini diturunkan, tampak warga di sejumlah kompleks perumahan masih berada di luar rumah mereka.

Bahkan beberapa orang tua siswa yang anaknya sedang berada sekolah, menjemput anaknya untuk diajak pulang.

Gempa terjadi empat kali, dan berlangsung hanya berselang beberapa menit antara gempa pertama, kedua, ketiga dan keempat. (A056/M008/K004)

Sabtu, 23 April 2011

Puluhan Kendaraan di Palembang Mogok Terobos Banjir

Palembang (ANTARA News) - Puluhan kendaraan roda empat dan roda dua di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat malam mogok setelah melintasi jalan yang digenangi banjir.

Yudi (24) warga Palembang mengaku terpaksa mencari jalur alternatif untuk pulang ke rumahnya di kawasan Kenten, mengingat sejumlah ruas jalan digenangi air hingga mencapai lebih 50 centimeter.

"Kami terpaksa memilih jalan memutar untuk menghindari banjir, ternyata tidak ada jalan yang tak tergenang," kata dia.

Ia menjelaskan, mulai dari Jalan Kolonel H Barlian, Simpang Polda, Jalan Sudirman, dan sejumlah ruas jalan mengalami banjir.

"Ketinggian air sampai melewati knalpot mobil minibus kami," ujar dia lagi.

Yudi menyatakan, hampir setiap ruas jalan yang ia lalui ditemukan mobil dan motor yang mogok.

Akibatnya terjadi kemacetan lalu lintas di ruas jalan yang digenangi air tersebut, kata dia pula.

Warga Palembang lainnya, Riani (22), seorang perawat di RS Muhammad Hoesin Palembang, menyatakan bahwa hujan deras mengguyur kota itu sejak sebelum maghrib sampi mengakibatkan ruang tunggu ICU di rumah sakit tersebut kebanjiran.

Akibatnya petugas berupaya menyedot air, agar tidak masuk ke ruangan lain, kata dia lagi.

Pemkot Palembang secara rutin mengalokasikan dana sebesar Rp200 juta, untuk perawatan drainase dan kolam retensi dari APBD setempat.

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Palembang, Apriadi S Busri, mengatakan perawatan drainase dilaksanakan secara rutin.

Namun memang belum bisa optimal mengingat Palembang memang sebagian besar berupa lahan rawa, kata dia.

Senin, 18 April 2011

Tanah Longsor di Malang, 10 Tewas

Malang (ANTARA News) - Korban tewas akibat tanah longsor di Dusun Klangon, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (17/4), mencapai sepuluh orang.

Korban ke-10, Andra (19) warga Dusun Klangon, telah meninggal di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, pada Minggu malam, saat menjalani perawatan akibat mengalami luka-luka.

"Total korban yang meninggal hingga Minggu malam menjadi 10 orang, dan korban tewas terakhir meninggal di RSSA Malang setelah menjalani perawatan," kata Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Apriliyanto, Senin.

Hal ini dibenarkan Kapolsek Ngantang, AKP Prayitno.Sementara, sembilan korban tewas sebelumnya adalah Suwandi (25), Suwoko (43), Sugianto (41), Ali Priyo Supatin (42), Dirham Nur Abidin (32), Poniman (30), Misdiono (44), Kasno (21) dan Mulyono (30). Seluruhnya, warga Dusun Klangon.

Sedangkan korban yang hingga saat ini menjalani perawatan sebanyak tujuh orang, yakni Ponari (32), Raun (53), Agung (13), Suwarno (55), Lukman (11), Slamet Wahyudi (41) serta Slamet Riyanto (21).

Peristiwa tanah longsor terjadi sekitar pada Minggu pukul 11.30 WIB, ketika para korban mencari kayu bakar yang rencananya akan dibuat hajatan pernikahan anak dari Sutomo (35), warga RT21/RW07 Dusun Klangon, Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang.

Ketika memungut kayu di pinggir Sungai Nambaan yang posisinya tepat di bawah tebing curam, tiba-tiba sejumlah batu dan tanah berjatuhan dari tebing. Akibatnya, sejumlah warga yang sedang mencari kayu itu tertimbun, Dan sembilan orang tewas di tempat.

Sementara itu, biaya perawatan bagi korban yang kini dirawat di RSSA Malang sepenuhnya akan ditanggung oleh Pemkab Malang.

"Seluruh biaya perawatan bagi mereka yang luka-luka maupun yang masih dirawat di Ngantang akan ditanggung oleh Pemkab Malang," ujar Bupati Malang, Rendra Kresna.
(*)

Jumat, 15 April 2011

Hujan Berpeluang di Perairan Merak-bakauheni

Bandarlampung (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di Perairan Merak-Bakauheni, Jumat, berpeluang hujan.

Selain itu, tinggi gelombang di Selat Sunda bagian utara tersebut berkisar 0,4-0,8 meter, dan angin dari barat ke barat laut dengan kecepatan 05-15 knot.

Di Selat Sunda bagian selatan, cuaca pun berpeluang hujan, angin dari barat ke barat laut dengan kecepatan 05-15 knot, dan tinggi gelombang 1,0-1,5 meter.

Cuaca berawan banyak berpeluang di Selat Bangka bagian utara, angin cari barat ke utara dengan kecepatan 03-08 knot, dan tinggi gelombang 1,3-1,5 meter.

Di Selat Bangka bagian selatan cuaca berawan banyak/hujan, angin dari barat ke utara dengan kecepatan 0,5-0,8 meter, dan tinggi gelombang 0,5-0,8 meter.

Cuaca di Selat Gelasa cuaca berawan banyak, angin dari barat ke utara dengan kecepatan 03-08 knot, dan tinggi gelombang 0,8-1,3 meter.

Sementara di Selat Bali bagian utara cuaca berpeluang hujan, angin dari timur ke tenggara dengan kecepatan 04-18 knot, dan tinggi gelombang 0,2-0,5 meter.

Begitu pula di Selat Bali bagian selatan dan Selat Badung cuaca berpeluang hujan, angin dari timur ke tenggara dengan kecepatan 04-20 knot, dan tinggi gelombang 0,3-0,8 meter.

Hal serupa terjadi di Selat Lombok bagian utara dan Selat Lombok bagian selatan yakni cuaca berpeluang hujan, angin dari timur laut ke tenggara dengan kecepatan 04-18 knot, dan tinggi gelombang 0,2-0,8 meter.

BMKG juga menginformasikan, gelombang 2,0-3,0 meter berpeluang di Laut Cina Selatan, Perairan Kep. Sangihe dan Talaud, Perairan utara P. Halmahera, Laut Halmahera bagian utara, serta Perairan timur Fhilipina. (T013/M019/K004)

Selasa, 12 April 2011

Merapi Bentuk Kubah Lava Baru Diameter 400 M

"Secara visual jika Merapi dilihat dari jauh, tidak ada perubahan."
VIVAnews - Gunung Merapi hingga kini masih berstatus waspada. Namun, paska erupsi 2010, Merapi kini memiliki kubah lava baru berdiameter 400 meter.

"Kubah itu merupakan proses lanjut dari erupsi kemarin, dan kini mengalami penambahan hingga berdiameter 400 meter," kata Subandryo, Kepala BPPTK Yogyakarta, saat dihubungi, Selasa 12 April 2011.

Menurut Subandryo, kubah lava baru itu tidak dapat terlihat secara visual. "Secara visual jika Merapi dilihat dari jauh, tidak ada perubahan, karena kubah lava itu tidak sampai meluber ke luar," ujarnya.

Kini, lanjut Subandryo, kondisi Merapi kembali mereda. Setelah pada akhir pekan kemarin menunjukkan peningkatan aktivitasnya yakni terjadi gempa vulkanik Multi Phase (MP) yang meningkat tajam. "Belum ada perkembangan lebih lanjut," ujarnya.

Peningkatan tajam aktivitas gempa terjadi pada Jumat 8 April 2011. Gempa vulkanik MP dalam sehari tercatat 50 kali. Angka ini bertambah dua kali lipt pada Sabtu. "Namun itu bukan hal yang istimewa, karena kondisinya memang masih normal," kata Subandryo. (umi)

Sabtu, 09 April 2011

Merapi Kembali Menggeliat, Diprediksi Akan Muncul Kubah Baru

Muchus Budi R. - detikNews
Boyolali - Aktivitas gunung Merapi di perbatasan Jateng - DIY kembali menunjukkan peningkatan. Pantauan petugas di lapangan, dimungkinkan peningkatan aktivitas tersebut seiring adanya indikasi bakal munculnya kubah baru di gunung teraktif di dunia tersebut.

Petugas pos pengamatan Gunung Merapi di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Purwono, memaparkan sepanjang Jumat (8/4) kemarin terjadi peningkatan aktivitas Merapi terutama gempa multiphase (MP) tercatat terjadi 122 kali. Sedangkan guguran terjadi 5 kali dan gempa vulkanik B sebanyak 5 kali.

"Dari data kegempaan terutama pada gempa MP itu, memang menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas. Sedangkan kondisi Gunung Merapi hingga saat ini memang dalam status waspada," papar Purwono saat ditemui di pos pengamatan gunung Merapi di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Sabtu (9/4/2011).

Dia membandingkan dengan aktivitas yang terjadi sehari sebelumnya, yaitu Kamis (7/4) tercatat gempa MP hanya tercatat sebanyak 9 kali, guguran 10 kali dan gempa vulkanik A dan B masing-masing sebanyak satu kali.

Sedangkan pada Sabtu (9/4/2011) ini, dari pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, gempa MP tercatat terjadi sebanyak 22 kali, guguran sebanyak 4 kali, tidak ada gempa vulkanik A dan gempa vulkanik B sebanyak 8 kali.

"Peningkatan aktivitas ini diindikasikan akan tumbuh kubah baru di puncak Merapi. Kami belum bisa memperkirakan arah kubah baru tersebut, karena hingga saat ini belum terlihat. Aktivitasnya masih di dalam perut bumi, belum sampai ke permukaan," lanjutnya.

Lebih lanjut Purwono menjelaskan, energi dari perut bumi akan mendorong magma ke permukaan dan akhirnya membentuk kubah. Namun bisa saja gerakan magma dari dalam menuju permukaan puncak itu berhenti jika energi yang mendorongnya melemah dan akan kembali naik jika dorongannya meninggi.

"Aktvitas Merapi sendiri saat ini sebenarnya masih cukup tinggi. Di dekat puncak masih terdengar suara desingan gas. Sedangkan akibat erupsi lalu kondisi puncak Merapi saat ini juga membentuk seperti tapal kuda dan mengarah ke selatan," demikian Purwono.

Kamis, 07 April 2011

Pilot Mulai Keluhkan Kabut Asap di Pontianak

Sungai Raya, Kalbar (ANTARA News) - Sejumlah maskapai mulai mengeluhkan kabut asap yang terjadi dari pembakaran lahan di sekitar Kecamatan Sungai Raya karena mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan di Bandar udara Supadio Pontianak.

"Akibat musim kering yang mendera Kalimantan Barat, banyak para penerbang yang melayangkan protesnya. Asap sudah menganggu, terutama di pagi hari, jarak pandang bagi penerbangan menjadi dekat sehingga menyebabkan para pilot mengeluhkan ke kami," ungkap Kepala Divisi Operasi Bandara Supadio Pontianak, Irmadani, saat dihubungi di Sungai Raya, Kamis.

Menurutnya, para penerbang protes karena jarak pandang ke bawah menuju landasan di Bandara Supadio Pontianak tertutup kabut asap sehingga susah dilihat dan menjadi dekat.

Pilot, lanjut dia, jadi cukup kesulitan dalam mendeteksi keberadaan landasan meski dengan jarak pandang 400 "feet" dalam dunia penerbangan masih dapat ditoleransi dan tidak begitu mengkhawatirkan.

Namun, keluhan para pilot tersebut juga harus diakomodasi karena kalau dibiarkan terus akan semakin mengganggu dunia penerbangan di Kalbar.

"Tidak menutup kemungkinan karena asap dalam beberapa waktu ke depan, bandara terpaksa ditutup," ucapnya.

Ancaman lain adalah terganggunya perekonomian di Kalbar. "Makanya harus ada langkah antisipasi atau pencegahan," kata dia menegaskan.

Pengelola Bandara Supadio Pontianak sudah melakukan berbagai langkah termasuk mengimbau melalui jejaring sosial seperti twitter yang berisi anjuran supaya warga Kalbar tidak

melakukan pembakaran lahan, hutan atau memainkan layang-layang di sekitar bandara.

"Pembakaran akan memunculkan kabut asap dalam jumlah banyak dan mengakibatkan penerbangan juga terganggu. Kita harapkan masyarakat mengetahuinya," katanya.

Sementara itu, pihak perusahaan perkebunan PT Peniti Sungai Purun di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat menyatakan bahwa sudah 95 persen kebakaran lahan di dalam areal perusahaan tersebut sudah berhasil dipadamkan dan dikendalikan.

"Laporan dari petugas menunjukkan hal itu," kata Corporate Affair PT Peniti Sungai Purun (PSP), Didiet Fadriana.

Luas lahan yang terbakar di perusahaan tersebut diperkirakan telah menghanguskan 400 hektare. (T011/K004)

Gempa 5,9 SR Guncang Kepulauan Nias

Medan (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter melanda sejumlah daerah di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, Rabu (6/4) malam, pukul 21.01 WIB.

Petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Polonia Medan Daniel Hutapea yang dihubungi ANTARA Medan, Kamis dinihari, mengatakan, gempa itu berlokasi di 1.55 lintang utara dan 97.5 bujur timur.

Gempa berkekuatan 5,9 SR tersebut berpusat di 67 Km barat laut Gunung Sitoli dengan kedalaman 15 Km di bawah permukaan laut.

Dari pemantauan yang dilakukan, gempa itu diperkirakan tidak memiliki potensi untuk menimbulkan gelombang tsunami.

Dari pemantauan itu juga diketahui getaran gempa tersebut terasa hingga sekitar tiga MMI di kawasan Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Pihak BMKG belum menerima laporan mengenai kerusakan yang terjadi akibat gempa tersebut. "Belum ada laporan," kata Daniel yang juga petugas forecaster atau peramal cuaca penerbangan. (I023/R014/K004)

Selasa, 05 April 2011

Kabut Asap Dumai Sisakan Jarak Pandang di Bawah 300 Meter

Dumai (ANTARA News) - Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan yang menutupi wilayah udara Kota Dumai, Provinsi Riau, Selasa pagi mengakibatkan jarak pandang di kota yang berhadapan dengan Selat Malaka itu berkisar dibawah 300 meter.

Akibat kabut asap tebal ini, setiap pengendara, rata-rata terlihat menyalakan lampu agar kendaraan lawan dapat melihat satu sama lain.

"Kabut asap hari ke hari semakin parah sehingga jarak pandang terus berkurang. Kalau sebelumya jarak pandang masih sekitar 500-600 meter," kata warga pengendara di Dumai, Dedi.

Pria 43 tahun yang ditemui ANTARA dekat rumahnya di Jalan Ombak ini mengatakan, kabut asap tebal juga membuat dirinya terpaksa melajukan sepeda motor dengan kecepatan di bawah 60 kilometer per jam.

"Hal ini saya lakukan untuk menghindari berbagai kemungkinan yang dapat mencelakakan diri. Selain itu, saya juga memakai masker setiap berkendara agar terhindar dari ISPA (infeksi saluran pernafasan atas)," ucapnya.

Di kesempatan terpisah, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Dumai, H Basri, mengaku heran dengan pekatnya kabut asap menutupi Dumai, hal ini disebabkan pantauan satelit NOAA 18 pada Senin (4/4), di Dumai hanya terdapat satu titik api.

"Kalau tak salah di Dumai hanya ada satu titik api dari sekitar 30an yang terpantau berada di Riau. Bisa jadi asap tebal pagi ini merupakan asap kiriman dari derah lain terutama Kabupaten Rokan Hilir karena disana terdapat lebih 20 titik api," kata Basri. (FZR/M019/K004)

Ini Keunikan Gempa Cilacap


Gempa Cilacap sangat berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya, yaitu gempa 2006 dan 2009.

VIVAnews - Gempa bumi yang terjadi di Cilacap, Jawa Tengah, pada Senin 4 April 2011 dikategorikan sebagai gempa unik. Gempa yang terjadi kali ini berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya.

Demikian disampaikan pakar Geodesi Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano saat berbincang dengan VIVAnews.com, Senin malam, 4 April 2011. "Gempa yang terjadi sangat unik, mekanismenya berbeda dengan gempa 2006 maupun gempa 2009," kata Irwan.

Menurut Irwan, gempa yang berkekuatan 7,1 skala Richter (sR) itu terjadi di dekat pertemuan antara lempeng Australia dengan lempeng Indo-Australia atau yang sering disebut sebagai lempeng Eurasia. Pada gempa yang terjadi pada 2006 dan 2009, kata Irwan, terjadi di antara pertemuan kedua lempeng. "Tepat pada bidang kontak kedua lempeng," kata dia.

Pada gempa 2006 dan 2009 tersebut, kedua lempeng saling tumbuk dan bagian lempeng yang saling bertemu itu mengalami kenaikan. "Bagian yang bertemu itu naik ke atas, sehingga pada waktu itu disertai tsunami," kata dia.

Namun, dia melanjutkan, pada gempa kali ini tidak terjadi pada bidang kontak lempeng, melainkan pada salah satu lempeng. Menurut Irwan, gempa yang terjadi Senin pukul 03.06.39 WIB itu terjadi di bagian lempeng Australia yang masuk ke lempeng Eurasia.

"Jadi, mekanismenya, gempa terjadi di lempeng turun atau sesar normal," kata dia.

Dia menambahkan, tipe gempa yang terjadi di Cilacap itu pada umumnya terjadi pada gempa-gempa susulan, setelah terjadinya gempa utama. "Namun pada gempa ini terjadi pada gempa utama. Ini yang juga menarik untuk kami teliti lagi," kata dia.

Meskipun demikian, menurut dia, gempa yang terjadi dengan mekanisme sesar normal tersebut dapat menyebabkan terjadinya tsunami. Lantas mengapa gempa pada Senin itu tidak terjadi tsunami? "Selain magnitud (kekuatan gempa) kecil, ya juga tidak terjadi di antara pertemuan lempeng," kata dia.

Para pakar sendiri, dia menjelaskan, sedang meneliti kejadian gempa Cilacap tersebut. Sejauh ini, belum didapat kesimpulan ilmiah tentang gempa yang dianggap unik tersebut. (art)

Rabu, 30 Maret 2011

Teka-teki Air Kawasan Merapi

Artikel dari : Masduki Attamami dan Victorianus Sat Pranyoto
Yogyakarta (ANTARA News) - Teka-teki kondisi air di kawasan Gunung Merapi pascaerupsi 2010, sampai sekarang masih pada apakah air itu layak dikonsumsi atau tidak.

Sejumlah sumur warga di kawasan kaki Merapi di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama di sekitar aliran lahar Sungai Gendol, saat ini menurut warga airnya tidak layak dikonsumsi karena tercium bau belerang.

Air yang diambil dari sumur setempat tercium bau belerang yang menyengat. "Kemungkinan besar sumur-sumur warga ini tercemar belerang yang meresap melalui Sungai Gendol," kata Kepala Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Hartono, Rabu (23/3).

Menurut dia, sumur warga yang tercemar belerang di antaranya di Dusun Murangan, Desa Sindumartani yang meliputi RT 1, RT 2 dan RT 3 di wilayah RW 5.

"Di tiga RT tersebut saat ini dihuni 90 kepala keluarga (KK), atau sekitar 500 jiwa dari segala usia," katanya.

Ia mengatakan warga merasakan adanya aroma belerang yang menyengat dari air sumur mereka sejak beberapa waktu lalu, atau sejak banjir lahar dingin sering terjadi di Sungai Gendol.

"Saat ini warga harus mencari air di lokasi yang masih aman, atau di wilayah tetangga RT, untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak," katanya.

Menurut Hartono, sebagian warga lainnya menggunakan air mineral isi ulang untuk keperluan minum maupun memasak. Air sumur hanya digunakan untuk mandi dan mencuci baju maupun perabotan rumah tangga.

Ia mengatakan tercemarnya sumur warga di Dusun Murangan kemungkinan karena letak dam Sungai Gendol di dusun ini cukup tinggi, sehingga terjadi genangan air bercampur dengan belerang.

"Air sisa banjir lahar yang menggenang itu kemungkinan meresap ke dalam tanah, dan kemudian merembes ke sumur warga. Jarak antara rumah warga dengan tanggul Sungai Gendol hanya 50 hingga 100 meter," katanya.

Dam Murangan yang kini dipenuhi material vulkanik Merapi, kata dia material itu juga menumpuk sangat tinggi, sehingga belerang hanya mengendap, dan sulit mengalir ke hilir.

"Warga berharap agar Dam Murangan di Sungai Gendol ini bisa diturunkan sedikit untuk aliran belerang, sehingga tidak terus menerus merembes ke sumur warga," katanya.

Menurut dia, warga saat ini pun berharap ada bantuan air bersih guna memenuhi kebutuhan minum dan memasak sehari-hari. "Saat ini pasokan air bersih benar-benar diharapkan warga, terutama untuk keperluan makan dan minum," katanya.


Uji Kimiawi

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melakukan uji kimiawi terhadap air sumur warga di kawasan kaki Gunung Merapi, terutama di sepanjang aliran lahar Sungai Gendol, menyusul adanya keluhan bau belerang dari warga.

"Kami langsung melakukan pemeriksaan terhadap air sumur warga di lereng Gunung Merapi, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai yang berhulu di puncak Merapi," kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Cahya Purnama, Kamis (24/3).

Menurut dia, pemeriksaan ini untuk memastikan dampak terhadap kesehatan masyarakat, dan layak atau tidaknya air sumur itu dikonsumsi.

"Kami memang menemukan bahwa air sumur warga di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, berbau belerang, meskipun warnanya cerah. Oleh karena itu, kami perlu melakukan uji kimiawi guna mengetahui unsur yang terkandung dalam air sumur tersebut," katanya.

Ia mengatakan sumur warga di bantaran Sungai Gendol bisa dikuras, dan kemudian dilakukan penjernihan lagi, sehingga bisa dikonsumsi seperti semula.

"Ada beberapa `treatment` yang bisa dilakukan. Tetapi harus menunggu kandungan di dalam air dari sumur itu diketahui terlebih dulu, sehingga bisa diputuskan layak dikonsumsi atau tidak," katanya.


Mata Air Berubah

Erupsi Gunung Merapi menyebabkan pola mata air berubah, karena terkuburnya sumber utama mata air di sabuk mata air paling atas oleh material vulkanik, kata peneliti dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Langgeng Wahyu Santosa.

"Perubahan pola mata air di sabuk mata air tersebut akibat endapan material vulkanik terutama di sekitar aliran Sungai Kuning, Gendol, dan Sungai Woro," kata Langgeng yang juga anggota Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) Fakultas Geografi UGM, Kamis (24/3).

Menurut dia, salah satu sumber mata air potensial yang selama ini telah dimanfaatkan sebagai sumber utama air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Sleman adalah mata air hulu Sungai Kuning, yakni Umbul Wadon dan Umbul Lanang. Kedua sumber ini telah terkubur endapan material vulkanik Merapi.

"Untuk dapat merumuskan tindakan yang lebih baik dan tepat dalam pengelolaan sumber daya mata air pascaerupsi Merapi, harus dipahami pendekatan geomorfologi kegunungapian," katanya.

Selain itu, kata dia, juga perlu dilakukan kajian potensi kerentanan air tanah bebas pencemaran.

Ia mengatakan beberapa kajian lain yang perlu dilakukan di antaranya pola perubahan sabuk mata air dan karakteristiknya, hidrogeokimia air tanah dan mata air, kerusakan sistem jaringan air bersih, perencanaan pola ruang, serta kajian lingkungan hidup strategis ekoregion gunung api.

Peneliti dari Fakultas Teknik UGM Heru Hendrayana mengatakan saat ini kondisi mata air hanya tertutup material letusan Merapi, sehingga hanya mengubah bentang alam lokal dan tutupan lahan. Jika nanti ada mata air yang akan keluar, itu karena ada tekanan tinggi dari dalam tanah.

"Mata air yang keluar cenderung mencari tempat yang bertekanan rendah, bisa menyebar atau terkonsentrasi. Kita masih menunggu sumber air itu akan muncul di mana," katanya.


Terancam Krisis Air

Warga di kawasan Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, DIY, terancam krisis air bersih jika Palang Merah Indonesia (PMI) benar-benar menghentikan pasokan air bersih mulai akhir Maret 2011.

"Jika PMI benar-benar menghentikan pasokan air, maka masyarakat di kaki Merapi akan kesulitan mendapatkan air bersih," kata Camat Pakem Budiharjo.

Menurut dia, saat ini memang banyak bantuan pipa dari organisasi swasta maupun perorangan, namun belum bisa dilakukan penyambungan ke sumber air untuk mencukupi kebutuhan warga, karena jalur ke sumber air di Umbul Wadon maupun Umbul Lanang masih sering dilanda banjir lahar dingin.

"Kebutuhan akan air bersih sampai sekarang masih mengandalkan droping air terutama dari PMI yang sejak bencana erupsi Merapi rutin memasok air bagi warga," katanya.

Saat ini, kata dia, dari perusahaan daerah air minum juga belum pasti kapan bisa mengalirkan air dari sumber di lereng gunung itu karena kondisi alam.

Ia mengatakan selain warga yang berada di daerah yang terdampak erupsi Merapi, perhotelan dan penginapan di sekitar gunung tersebut juga masih membeli air setiap hari.

"Satu tangki air bersih isi 5.000 liter saat ini harganya antara Rp100 ribu hingga Rp120 ribu," katanya.

Dinas Pekerjaan Umum dan Pembangunan Kabupaten Sleman masih melakukan pasokan air dengan menggunakan delapan truk tangki yang dimiliki.

"Namun, kebutuhan bagi para warga diyakini tidak bisa tercukupi, karena selama ini PMI setiap hari melakukan droping air sebanyak 70 tangki kepada warga di lereng Merapi, dan apabila PMI menghentikan pasokannya, warga akan banyak kekurangan air.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan pihaknya saat ini sedang mengajukan permohonan ke PMI Pusat untuk bisa memperpanjang pasokan air ke kawasan kaki Merapi, khususnya Kecamatan Pakem dan Cangkringan.

"Kami sedang mengajukan permohonan ke PMI, dan harapan kami droping air bisa diperpanjang, sehingga kebutuhan air bersih warga Merapi dapat terpenuhi, hingga saluran air dari mata air bisa tersambung," katanya.

Plt Kepala Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Urip Bahagia mengatakan masalah air bagi warga kawasan Merapi masih dalam pembahasan.

"Kami masih akan meminta perpanjangan droping air, karena jika tidak, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga di kawasan itu," katanya.

Menurut dia, saat ini yang penting adalah kecukupan air bersih bagi warga, baik yang mengungsi, yang tinggal di hunian sementara, dan tempat lainnya. "Kami akan mengupayakan ketersediaannya," katanya.

Warga yang tinggal di kawasan Merapi, dan masih mengandalkan pasokan air, jumlahnya 20 ribu jiwa lebih yang tersebar di Kecamatan Cangkringan, Pakem, Turi dan Kecamatan Tempel.


Pipa Air Mandiri

Korban bencana erupsi Gunung Merapi di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, memasang pipa saluran air secara mandiri dari mata air "Umbul Lanang" dan "Umbul Wadon" di lereng Gunung Merapi.

"Warga secara mandiri melakukan pemasangan pipa air untuk mengantisipasi jika nanti droping air dari PMI benar-benar dihentikan," kata Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Heri Suprapto.

Menurut dia, pemasangan dan perbaikan pipa air yang rusak akibat diterjang awan panas Merapi ini murni inisiatif warga, dan dikerjakan secara bergotong-royong.

"Kami mendapat informasi bahwa droping air bersih dari PMI akan segera dihentikan, dan selama ini droping dari PMI memang sangat membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga korban Merapi," katanya.

Ia mengatakan selama ini warga kawasan Merapi hanya menggantungkan pemenuhan kebutuhan air dari droping yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUP) Kabupaten Sleman, PMI, maupun donatur lainnya.

"Sejak bencana erupsi, droping air bersih dari PMI memang paling banyak mencukupi kebutuhan warga. Sehingga, jika sampai droping air dari PMI benar-benar dihentikan, akan sangat terasa sekali," katanya.

Heri mengatakan apabila droping air hanya dilakukan Dinas PUP dan donatur, pasti tidak mencukupi. "Kami sangat berharap droping air dari PMI tidak berhenti, karena warga masih sangat membutuhkan," katanya.

Ia mengatakan pemasangan pipa air sepanjang delapan kilometer itu, yakni dari "Umbul Wadon" atau "Umbul Lanang" hingga barak pengungsi Kepuharjo serta hunian sementara Dusun Gondang I.

"Pipanya kami minta ke Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DIY, namunpemasangan pipa dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat dengan bergantian," katanya.


Debit Air Berkurang

Debit air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamarta Yogyakarta berkurang sekitar 50 liter per detik, setelah matinya salah satu sumber air akibat erupsi Gunung Merapi pada November 2010, yaitu Umbul Wadon di Kabupaten Sleman.

"Sebelum terjadi bencana erupsi dan banjir lahar dingin Merapi, debit air PDAM Tirtamarta sekitar 620 liter per detik, tetapi kini hanya sekitar 570 liter per detik," kata Direktur Utama PDAM Tirtamarta Yogyakarta Imam Priyono di sela acara `Grebeg Air 2011`, di Yogyakarta, belum lama ini.

Menurut dia, meski debit air berkurang,pihaknya masih mampu memenuhi kebutuhan seluruh pelanggan PDAM Tirtamarta sebanyak 34.000 pelanggan, yaitu 550 liter per detik.

Namun demikian, pelanggan yang berada di Kota Yogyakarta bagian selatan tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal, karena tekanan air PDAM tidak terlalu kuat, sehingga aliran air ke lantai dua atau tiga rumah maupun gedung, menjadi lemah.

"Fungsi dari Umbul Wadon adalah sebagai pendorong, tetapi karena sudah hilang, maka fungsi pendorong pun tidak ada lagi," kata Imam.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya kini memaksimalkan debit air di sumur-sumur dalam milik PDAM Tirtamarta yang jumlahnya 34 sumur, dengan rata-rata debit air setiap sumur 15-20 liter per detik.

Konsekuensi dari berkurangnya debit air, PDAM Tirtamarta tidak bisa menambah jumlah pelanggan.

"Kami berharap, pemerintah pusat bisa segera melakukan perbaikan terhadap jaringan air di Umbul Wadon, sehingga debit air bisa kembali meningkat," katanya.

Upaya jangka panjang yang bisa dilakukan, menurut dia adalah menyatukan PDAM di tiga kota dan kabupaten di DIY, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, sehingga bisa mengambil air dari sumber di Magelang, Jawa Tengah. (U.M008*V001/KWR/K004)

Banjir Lahar Bencana Merapi Terlama

Yogyakarta (ANTARA News) - Banjir lahar dingin pascaerupsi Gunung Merapi 2010, kemungkinan merupakan bencana terlama dalam sejarah gunung api di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Gunung itu meletus pada Oktober 2010, dan timbunan material vulkaniknya berupa abu, pasir, kerikil dan batu di puncak, lereng, kaki gunung hingga kawasan sekitarnya, kini menjadi sumber bencana banjir lahar dingin.

Bencana sekunder dari gunung ini yaitu banjir lahar dingin, ternyata melebihi segalanya dibandingkan dengan bencana primer berupa letusan dan awan panas.

Banjir lahar dingin Merapi selama empat bulan terakhir dirasakan warga yang menjadi korban, dan pemerintah daerah serta pemerintah pusat maupun pihak-pihak lain yang terkait, merupakan bencana yang melelahkan. Air mata, harta benda, tenaga dan pikiran terkuras sepanjang hari, dan tidak diketahui sampai kapan.

Seribu lebih rumah warga, sejumlah infrastruktur berupa jembatan, jalan, irigasi dan ratusan hektare lahan pertanian mengalami kerusakan akibat bencana alam tersebut. Bahkan ratusan rumah penduduk kemungkinan tidak bisa lagi ditempati karena tertimbun tanah, pasir dan kerikil.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menyatakan potensi banjir lahar dingin masih akan terus terjadi, karena baru sekitar 30 persen material erupsi Merapi yang turun atau longsor menjadi lahar hujan.

"Material hasil erupsi Merapi yang masih berada di atas sekitar 70 persen. Ini masih akan terus menjadi ancaman selama musim hujan masih terjadi," kata Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo.

Menurut dia, hujan dengan intensitas kurang dari 20 milimeter per jam sudah akan mampu menghanyutkan material erupsi Merapi menjadi lahar hujan, karena kondisi material yang sudah semakin jenuh.

Material hasil erupsi Merapi 2010 diperkirakan volumenya sekitar 140 juta meter kubik. BPPTK bahkan pernah menyebutkan diperlukan tiga musim hujan, atau tiga tahun untuk "menghabiskan" sekitar 70 persen material hasil erupsi yang masih berada di atas itu.

Terkait dengan ancaman banjir lahar tersebut, BPPTK telah memasang alat pemantau pergerakan lahar hujan di 12 sungai yang berhulu di Merapi. Namun, peralatan pemantau yang menjadi bagian dari sistem peringatan dini itu, hanya sebagian kecil dari upaya penyelamatan yang bisa dilakukan.

"Masyarakat harus terus waspada, terutama warga yang tinggal di daerah hilir, karena tebing sungai di hilir biasanya sudah rendah," katanya.

Jarak aman sekitar 300 meter dari bibir sungai, menurut dia perlu ditaati, bahkan jika perlu harus disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah.

"Membangun tanggul di kanan dan kiri bibir sungai bisa menjadi upaya jangka panjang, namun untuk keadaan darurat seperti sekarang, yang perlu dilakukan adalah memperhatikan jarak aman," katanya.

Jangkauan terjauh material kasar hasil erupsi Merapi yang hanyut sebagai lahar hujan terjadi di Kali Putih dan Kali Pabelan di wilayah Kabupaten Magelang (Jawa Tengah), dengan jangkauan material halus di kedua sungai itu telah mencapai jarak 40-50 kilometer.

Sedangkan di Kali Gendol di wilayah Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), jangkauan material kasar mencapai daerah pertemuan antara Kali Gendol dengan Kali Opak, dengan material halus mencapai sekitar Candi Prambanan.

Oleh karena itu, BPPTK Yogyakarta masih menetapkan status "waspada" pada gunung setinggi 2.965 meter ini, dan tetap merekomendasikan kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas di badan sungai, serta tidak melakukan pendakian.


Pemulihan Sampai 2014

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam program pemulihan pascabencana Gunung Merapi akan dilaksanakan sampai 2013. "Pelaksanaannya dimulai Januari 2011 hingga 2013, dan maksimal sampai 2014," kata Bupati Sleman Sri Purnomo.

Ia mengatakan pemerintah kabupaten telah memulai upaya pemulihan melalui rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi Merapi, dan ini memerlukan dukungan semua pihak, karena tidak mungkin dilakukan sendiri, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada.

Menurut dia, bantuan fasilitas kesehatan juga sangat diperlukan untuk memantapkan dan mempertahankan pelayanan kesehatan.

"Bencana erupsi Merapi telah merusak sekitar 10 gedung puskesmas pembantu dan lima puskesmas di wilayah Kecamatan Pakem, Turi, Ngemplak, dan Cangkringan," katanya.

Ia mengatakan berbagai bantuan yang diterima Pemkab Sleman tentu akan semakin memotivasi masyarakat untuk menata kembali kehidupannya.

"Selain itu, bantuan tersebut juga memudahkan kami dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana erupsi Merapi," katanya.

Sedangkan untuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menurut bupatinya, Seno Samodro, rencana pembangunan untuk pemulihan daerah bencana pascaerupsi Gunung Merapi, sampai sekarang belum ada kejelasan, dan kemungkinan bakal mundur dari jadwal.

"Tahap pembangunan pemulihan daerah bencana pascaerupsi Merapi direncanakan dikerjakan pada April 2011. Namun, anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi hingga kini belum ada," kata bupati.

Menurut dia, pihaknya sudah menanyakan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait dengan pembangunan infrastruktur daerah bencana. Namun, BNPB justru mengatakan dana tersebut dikembalikan ke departemen teknis, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Ia mengatakan pihaknya saat mengkonfirmasi ke Kementerian PU, katanya belum ada dana yang masuk untuk pengerjaan infrastruktur, sehingga tidak dapat dilakukan dengan APBN Murni 2011.

Oleh karena itu, kata dia, secara logika dana untuk pengerjaan infrastruktur paling cepat harus menunggu APBN Perubahan pada September 2011.

Bupati menyayangkan BNPB yang selama ini selalu menjanjikan bahwa pemerintah akan mengucurkan bantuan guna menanggulangi bencana Merapi, termasuk di wilayah Kabupaten Boyolali.

Namun, menurut Seno, kenyataannya sampai sekarang belum ada informasi mengenai kejelasan dana yang masuk, sehingga penanganan pemulihan infrastruktur di daerah bencana dipastikan mundur dari rencana.

Ia mengatakan dengan kondisi tersebut, membuat posisi dilematis bagi pemerintah daerah, karena pihaknya sebagai ujung tombak, harus berhadapan langsung dengan masyarakat. "Kami khawatir dianggap oleh masyarakat pembohong, karena bantuan yang dijanjikan mundur dari rencana. Padahal dana itu memang belum turun dari pusat," katanya.

Bupati menjelaskan, pemkab mengajukan dana untuk rehabilitasi daerah bencana yang terdampak erupsi Merapi di Boyolali senilai Rp127 miliar, meski kerugiannya mencapai sekitar Rp300 miliar.

"Salah satunya pembangunan infrastruktur seperti 18 jembatan di tiga kecamatan, yakni Selo, Musuk, dan Cepogo yang terputus akibat banjir lahar dingin," katanya.

Namun, kata Seno, anehnya justru alokasi dana untuk pemulihan bidang pendidikan melalui Kementerian Pendidikan Nasional lancar.


Rehabilitasi Sumber Daya Air

Rehabilitasi sumber daya air di kawasan Merapi di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang rusak akibat bencana erupsi dan banjir lahar dingin diperkirakan memerlukan dana Rp24 miliar.

"Bencana erupsi Merapi yang diikuti bencana sekunder berupa banjir lahar dingin mengakibatkan kerusakan prasarana sumber daya air berupa talud, bendung, dan jaringan irigasi, yang seluruhnya sebanyak 82 unit, dengan luas areal oncoran 8.145,48 hektare," kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral Kabupaten Sleman Widi Sutikno.

Menurut dia, sementara ini diperkirakan biaya untuk perbaikan kerusakan tersebut mencapai sekitar Rp24 miliar, termasuk untuk perbaikan kerusakan mata air dan pipa jaringan distribusinya di sumber air "Umbul Wadon", "Umbull Bebeng", dan lainnya.

"Biaya untuk pemulihan sendiri diperkirakan mencapai lebih dari Rp19,5 miliar, ini belum termasuk kerusakan pascabanjir lahar dingin besar dalam sepekan terakhir," katanya.

Ia mengatakan saat ini memang belum dapat dilakukan perbaikan karena banjir lahar dingin masih terus terjadi.

"Biaya yang cukup besar juga diperlukan terutama untuk pengkajian penyusunan desain konstruksi yang lebih aman," katanya.

Widi mengatakan kerusakan sumber daya air meliputi aliran pada bendungan maupun jembatan yang tersumbat material vulkanik berupa batu besar, kerikil, pasir, lumpur, batang pohon yang hanyut dan rumpun bambu, serta intake irigasi yang tertimbun material dengan ketebalan sekitar tiga meter lebih.

"Kerusakan terjadi pada konstruksi dam, bendung serta jembatan, dari klasifikasi sedang sampai runtuh total, dan saluran irigasi juga banyak yang putus serta ambrol, begitu pula sawah dan sumber mata air yang tertimbun material vulkanik," katanya.

Ia mengatakan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam upaya pemulihan di antaranya prasarana sumber daya air yang belum dapat berfungsi, sehingga berpotensi terganggunya aktivitas ekonomi berbasis air.

"Pemulihan sumber daya air itu sendiri baru bisa dilakukan setelah musim hujan berakhir, karena saat ini masih rawan terjadi banjir lahar dingin," katanya.

Penanganan yang akan dilakukan, kata dia di antaranya dengan membersihkan jembatan dari sumbatan material, mengembalikan aliran sungai yang berbelok dan berpindah, serta membuat tanggul dan sarana maupun prasarana darurat.


Sumur Tercemar

Widi Sutikno juga mengatakan sejumlah sumur warga di kawasan Gunung Merapi di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY, tercemar zat besi dari material vulkanik yang terbawa aliran Sungai Gendol.

"Semula ditengarai air sumur-sumur warga tersebut tercemar belerang, namun setelah kami lakukan penelitian bersama dengan Dinas Kesehatan, ternyata tercemar zat besi atau (Fe)," katanya.

Menurut dia, karena positif tercemar Fe, maka pihaknya dalam waktu dekat ini akan mencoba untuk melakukan pengurasan sumur-sumur tersebut untuk mengurangi kadar pencemaran air sumur milik warga.

"Kami akan meminjamkan pompa air untuk menguras sumur-sumur yang tercemar tersebut, sehingga air sumur dapat berganti dengan yang baru dan kadar pencemaran dapat berkurang. Mudah-mudahan setelah dikuras, air sumur warga tersebut kembali layak dikonsumsi," katanya.

Ia mengatakan pascabanjir lahar dingin besar pada 19 Maret dan 22 Maret 2011, kerusakan infrastruktur terutama tanggul sungai dan sarana irigasi semakin parah.

"Sebenarnya kerusakan ini terjadi sudah sejak awal banjir lahar dingin pada beberapa bulan lalu, namun dengan dua kejadian banjir lahar dingin besar yang terakhir, kerusakan menjadi semakin parah, seperti jembatan Kliwang yang tergerus pondasinya, maupun kerusakan di permukiman warga," katanya.

Widi mengatakan untuk perbaikan infrastruktur tersebut masih menunggu musim hujan berakhir sekitar pertengahan April 2011, sehingga terhindar dari kemungkinan diterjang banjir lahar dingin lagi.

"Namun, kami tidak dapat memastikan apakah pertengahan April nanti musim hujan benar-benar berakhir, karena tidak menutup kemunungkinan masih akan turun hujan di kawasan Merapi, sehingga terjadi banjir lahar dingin besar seperti kemarin," katanya.

Ia mengatakan saat ini yang menjadi prioritas adalah mengenai keselamatan warga yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

"Prioritas kami saat ini adalah keselamatan warga, yakni dengan membuat tanggul-tanggul pengamanan di aliran Sungai Opak maupun Gendol, serta mengarahkan aliran sungai agar tetap di jalurnya, dengan membuat `guide chanel` agar air tidak meluap ke permukiman warga," katanya.

Sedangkan bagi korban banjir lahar dingin yang rumahnya rusak parah dan tidak bisa dihuni lagi, kata dia diupayakan untuk mendapatkan "shelter" atau hunian sementara.

"Untuk rumah-rumah yang rusak ringan dan masih bisa dihuni, kami bantu untuk membersihkan dan memperbaikinya dengan dana gotong-royong atau dana sosial lainnya," katanya. (M008*E013/K004)