Positive Thinking

Positive Thinking Akan Sangat Membantu Pola Pikir Kita Dalam Berkomunikasi Antara Kita Serta berkreasi Maupun Dalam Menunjang Aktivitas Kita

Kamis, 13 Oktober 2011

BMKG: Bali diguncang 10 kali gempa susulan

Denpasar (ANTARA News) - Setelah gempa besar 6,8 skala richter pada pukul 11.16 Wita, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mendeteksi sedikitnya 10 gempa susulan yang mengguncang wilayah Bali hingga Kamis sore.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana menyatakan, sejak gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter (SR) Kamis pukul 11.16 Wita, wilayah Bali diguncang 10 kali gempa susulan hingga sore hari.

"Berdasarkan pantauan kami sampai saat ini sudah terjadi 10 kali gempa susulan. Akan tetapi, yang guncangannya sangat terasa pada gempa susulan ke-10," kata Kepala BMKG Wilayah III Denpasar Wayan Suwardana ketika dihubungi ANTARA.

Suwardana menjelaskan, gempa susulan ke-10 itu terjadi pada pukul 15.52 Wita dengan kekuatan 5,6 SR.

Lokasi gempa susulan ke-10 itu berada pada 9,76 derajat Lintang Selatan dan 114,53 derajat Bujur Timur atau tidak jauh dari gempa yang terjadi pada pukul 11.16 Wita.

"Sama seperti gempa utama, gempa susulan itu tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami," ujarnya kembali menandaskan.

Suwardana menambahkan, saat ini pihaknya terus memantau perkembangan dan kondisi terakhir kegempaan.

Namun hingga berita ini ditulis, pihaknya belum mendapatkan laporan, apakah telah terjadi gempa susulan lagi atau tidak.

Terkait kondisi air laut di wilayah selatan Pulau Bali yang meninggi, menurut dia, bukan disebabkan terjadinya gempa yang membuat panik masyarakat setempat.

"Penyebab tingginya air laut di wilayah tersebut kemungkinan karena faktor angin yang kencang serta cuaca," kata Suwardana.

Sementara, gempa susulan ke-11 sempat dirasakan para penumpang di ruang tunggu terminal keberangkatan domestik Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Tuban, Kabupaten Badung.

Meskipun penumpang di terminal ruang tunggu sempat heboh, namun mereka tidak panik sehingga tidak sampai mengacaukan sistem pemeriksaan terhadap penumpang di bandara tersebut.

Bali Gempa 6,8 SR, Kedalaman 10 Km

VIVAnews - Gempa berkekuatan 6,8 skala richter mengguncang Pulau Dewata. Gempa besar itu berpusat di kedalaman 10 kilometer dari permukaan laut.

Informasi yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa berkekuatan 6,8 SR terjadi sekitar pukul 10.16 WIB di Nusa Dua, Bali, Kamis 13 Oktober 2011.

Episentrum gempa diketahui berada di lokasi 9.89 Lintang Selatan dan 114.53 Bujur Timur. Pusat gempa berada pada jarak 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua, Bali.

Belum diketahui adanya data korban jiwa, kerusakan atau korban luka akibat gempa ini. Juga belum ada informasi akan adanya gelombang tsunami atau tidak.

Tanggal 10 Maret 2011 lalu, Bali juga pernah dilanda gempa. Skalanya saat itu 6,6 Skala Ricther. Gempa pada Maret lalu itu membuat sejumlah wisatawan panik. Getaran gempa saat itu terasa hampir satu menit.

"Tidur seperti digoyang-goyang," kata Nur Farida Ahniar, wartawan VIVAnews.com yang tengah berada di kawasan Nusa Dua, Bali, Jumat, 10 Maret 2011 dini hari. Nur mengisahkan bahwa sesudah bangun, ia melihat
kaca-kaca di kamar hotel bergetar.

Lemari kayu berbunyi derit. Sejumlah penghuni hotel juga berlari keluar. Namun, setelah getaran hilang, mereka segera masuk kembali ke hotel.

Meteor Hantam Atap Rumah Warga

VIVAnewes - Setelah memperbaiki atap rumah yang bocor, keluarga Comette yang tinggal di Draveil, kawasan di sekitar selatan Paris, Prancis mendapati bahwa rumah mereka ternyata telah dihantam oleh benda yang bukan berasal dari planet Bumi.

Martine Comette, 32 tahun, sang pemilik rumah, kemudian menghubungi Alain Carion, seorang ahli mineral untuk menginvestigasi batu aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya itu.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Carion, ternyata penyebab kerusakan atap rumah keluarga Comette itu merupakan meteorit berbobot sekitar 100 gram dan diperkirakan berusia 4,57 miliar tahun.

“Ini sangat langka. Kita hanya kejatuhan sekitar 50 meteor di seluruh Prancis selama empat abad terakhir,” kata Carion, seperti dikutip dari Guardian, 11 Oktober 2011. “Kami belum pernah menemukan kejadian seperti ini di dalam radius 80 kilometer dari Paris,” sebutnya.

Meteorit yang ditemukan itu sendiri adalah chondrite, semacam batu ruang angkasa dan merupakan bentuk meteorit yang paling umum. Ia terbentuk dari debu yang mengawali lahirnya sistem tata surya kita.

Dari kompisisi mineral yang dimiliki oleh meteorit yang jatuh di Prancis tersebut, diperkirakan batu tersebut berasal dari sabuk asteroid yang ada di antara Mars dan Jupiter.

Selasa, 11 Oktober 2011

Gunung Marapi masih keluarkan asap

Bukittinggi (ANTARA News) - Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Tanahdatar dan Agam, Sumatera Barat terlihat masih mengeluarkan asap hitam pada Senin sekitar pukul 21.30 WIB.

Pantauan ANTARA Senin malam asap hitam yang keluar dari gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut (mdpl) ini jelas terlihat di Nagari Sungaipuar, Kabupaten Agam.

Yulia Ningsih, warga Sungaipuar, mengatakan, asap hitam yang dimunculkan gunung berlangsung cukup lama.

"Gumpalan asap itu membubung tinggi dari puncak gunung. Gumpalan asap itu terlihat jelas karena cuaca malam ini sangat cerah," katanya.

Ia menambahkan, gunung tersebut pada Minggu (9/10) pagi juga mengeluarkan asap hitam dengan ketinggian sekitar 50 meter. Kemudian pada Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB gunung tersebut kembali menyembur asap hitam.

"Gempa vulkanik dibandingkan beberapa hari sebelumnya mulai berkurang. Setidaknya terjadi kegempaan sebanyak 14 kali, baik gempa tremor dan gempa embusan," kata petugas Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB), Warseno.

Dia menyebutkan, meski aktivitas vulkanik mulai menurun, namun letusan mengalami peningkatan, yaitu 111 kali dari tanggal 1 - 8 Oktober 2011.

"Letusan Gunung Marapi menyemburkan abu vulkanik menuju Tenggara atau ke daerah Pariangan dan Simabur, Kabupaten Tanahdatar," katanya.

Letusan gunung secara kualitas masih sama dibandingkan beberapa hari sebelumnya, dengan ketinggian berkisaran 100 - 600 meter.

Penurunan aktivitas vulkanik Gunung Marapi tersebut, belum disertai penurunan status waspada level II yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Masyarakat tetap dilarang untuk mendekati gunung sampai radius tiga kilometer dari puncak.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung tidak usah khawatir gunung akan meletus, karena kondisi gunung belum menunjukkan tanda-tanda ke arah itu," katanya.

Salah satu gunung api aktif di Sumbar ini telah mengalami peningkatan aktivitas sejak 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB.

Gunung ini sempat mengeluarkan abu vulkanik berbau belerang berketinggian 1.000 meter dan menjangkau sejumlah daerah di Sumbar, seperti Agam, Tanahdatar, Padang Pariaman, dan Padangpanjang. (ANT-205/Z002)

Menteri LH minta perusahaan terapkan "green economy"

Batam (ANTARA News) - Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta meminta seluruh perusahaan di Indonesia menerapkan konsep "green economy" atau "ekonomi hijau" untuk meminimalkan kerusakan lingkungan.

"Efek kerusakan lingkungan dari setiap kegiatan perusahaan terutama industri pasti ada. Namun hal tersebut bisa diminimalkan bila seluruh perusahaan mau melaksanakan konsep ekonomi hijau," kata Meneg LH di Bandara Hang Nadim Batam setelah meninjau beberapa kawasan industri bersama Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Sabtu

Menurut Gusti, ekonomi hijau atau pengimbangan laju ekonomi dengan upaya konservasi lingkungan alam dan melahirkan paradigma ekonomi yang memasukkan aspek lingkungan ke dalamnya dapat mengurangi efek buruk dari kegiatan industri perusahaan yang bisa menurunkan kualitas udara dan kerusakan ekosistem alam.

"Dengan penerapan ekonomi hijau, efek industri yang mengancam lingkungan dan manusia bisa ditekan sehingga kerusakan lingkungan mampu diminimalkan," tambah dia.

Kebanyakan negara dan pemangku kepentingan, kata Menteri, meyakini bahwa ekonomi hijau adalah solusi bagi masalah kerusakan lingkungan serta dapat membawa kehidupan dan peradaban global menjadi lebih baik, berkeadilan, sejahtera, dan berkesinambungan.

"Konsep ekonomi hijau dilaksanakan untuk mendukung pembangunan nasional yang bersifat pro-lapangan kerja, pro-pertumbuhan dan pro-lingkungan", kata Menlh Gusti.

Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya mulai menampilkan dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup, kata menteri.

"Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia sendiri," ucap Gusti.

Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan yang perlu diperhatikan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi global.

Gusti mengatakan, konsep ekomomi hijau yang diterapkan di Indonesia tersebut pernah disampaikan dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Global ke-56 di Kenya pada Februari lalu yang diikuti 52 Menteri Lingkungan Hidup seluruh dunia.

"Konsep ekonomi hijau juga ditujukan untuk mencapai target pertumbuhan berkelanjutan sebesar tujuh persen dan penurunan emisi karbon 26-40 persen pada 2020," kata menteri.

Kepala BP Batam, Mustofa Wijaya berharap imbuan menteri tersebut bisa diterapkan sehingga kerusakan lingkungan bisa dicegah.

Senin, 12 September 2011

BMKG Bengkulu prakirakan kemarau berakhir pertengahan September

Bengkulu (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bengkulu memprakirakan musim kemarau panjang yang melanda daerah itu akan berakhir pada pertengahan September 2011.

"Berdasarkan pemantauan kami peralihan musim kemarau ke penghujan di daerah ini diprakirakan terjadi pada pertengahan September 2011," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pulau Baai Bengkulu, Sudiyanto, Minggu.

Ia menjelaskan, beberapa hari terakhir telah muncul awan jenis Comulus Nimbus atau awan jenis rendah yang bisa memicu terjadinya turun hujan dalam beberapa hari ke depan.

"Selain itu, saat ini suhu di permukaan laut pantai barat Sumatera di Provinsi Bengkulu tergolong panas yakni di atas 37 derajad Celcius sehingga mendukung munculnya awal jenis Comulus Nimbus sebagai pemicu turunnya hujan," katanya.

Berdasarkan pantauan BMKG Pulau Bai Bengkulu dalam empat hari terakhir, sudah terjadi hujan lokal dengan intensitas rendah antara 0 hingga 20 milimeter per hari di beberapa wilayah daerah ini.

"Hujan lokal hanya berlangsung beberapa menit saja dengan intensitas rendah antara 0 hingga 20 milimeter per hari," katanya.

Bila musim hujan telah tiba pada pertengahan hingga akhir September 2011, ia memperkirakan curah hujan yang terjadi masih dalam intensitas rendah dan sedang.

"Curah hujan dengan intensitas sedang yakni 20 hingga 50 mili meter per hari. Meski intensitas curah hujannya rendah dan sedang, namun masyarakat harus mewaspadai angin kencang serta petir," katanya.

Ia menjelaskan, angin kencang dan petir yang terjadi pada pertengahan hingga akhir September 2011 diperkirakan akan muncul secara tiba-tiba serta membahayakan keselamatan jiwa penduduk.

"Saat terjadi angin kencang dan petir, masyarakat diminta tidak berada di lapangan terbuka serta berteduh di bawah pohon yang rawan roboh. Karena angin kencang bisa memicu terjadinya gelombang laut di pantai Bengkulu hingga di atas tiga meter, kepada para nelayan disarankan untuk berhati-hati bila mencari ikan di laut," katanya.

Sementara itu, akibat musim kemarau, ratusan hektare sawah di Kota Bengkulu terancam gagal panen akibat kurangnya pasokan air yang mengairi areal persawahan daerah itu.

"Dari 1.536 sawah yang sudah ditanami didaerah ini sebanyak 246,75 hektare atau 16,06 persen sudah mengalami kekeringan dan terancam gagal panen apabila hujan tidak turun dalam dua minggu ke depan," kata Kepala Dinas pertanian dan peternakan Kota Bengkulu Arif Gunadi,

Lokasi sawah yang terancam gagal panen tersebut berada di Kecamatan Gading Cempaka seluas 41,5 hektare, Sungai Serut seluas 97 hektare dan Muara Bangkahulu seluas 108,25 hektare. Tanaman padi yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen tersebut rata-rata berusia 1,5 bulan.

"Jika dalam satu minggu ini masih ada hujan yang turun maka para petani masih bisa memanen hasil padi mereka mencapai 70 persen dari keseluruhannya, namun bila tidak turun hujan dipastikan ratusan hektare tanaman padi akan gagal panen," katanya. (ANT-213/Z002/K004)

Minggu, 11 September 2011

Waspadai Angin Puting Beliung

 Jpnn
BOGOR -    Data dan informasi Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor, Leny Jantika mengakui curah hujan tahun ini di Jawa Barat lebih kecil dibanding tahun lalu. Secara keseluruhan pada kemarau tahun ini curah hujan berada di bawah normal. Berdasarkan pemantauan stasiun klimatologi, prakiraan sifat hujan di bawah normal pada September ini akan melanda di sebagian kecil Bogor bagian barat, Karawang utara, Purwakarta selatan, Subang selatan, Sumedang utara, Bandung barat, Sukabumi tengah, Garut utara dan timur, serta beberapa wilayah lainnya di Jawa Barat.

Namun, di beberapa wilayah seperti Bogor bagian utara, tengah, selatan dan barat, lalu Purwakarta utara bagian tengah, Indramayu selatan bagian timur serta Cirebon utara dan selatan, masih berada di atas normal. Artinya, beberapa daerah ini masih akan merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi. “Pada dasarnya curah hujan di sebagian wilayah Bogor masih di atas normal, tapi sebagian lagi sudah mulai kering,” kata dia.

Leny mengatakan, hal-hal yang menimbulkan potensi kekeringan di antaranya, kondisi defisit curah hujan, masa puncak musim kemarau dimana curah hujan berada di bawah normal, permulaan musim kemarau lebih maju dari rata-rata, daya tampung waduk menurun, serta petani lebih memaksakan menanam padi dengan melakukan illegal pumping. “Kondisi kering yang berkepanjangan ini berpotensi menyebabkan bencana kebakaran,” terangnya.

Menurut Leny, pada musim kemarau ini Stasiun Klimatologi Dramaga juga mengimbau masyarakat Bogor untuk mewaspadai bahaya puting beliung yang bisa terjadi kapan saja. Ia mencontohkan puting beliung pada Rabu (7/9) di Bogor bagian tengah. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa angin tersebut terjadi di bawah awan Cumulonimbus (Cb). Angin terjadi dalam waktu singkat antara tiga hingga lima menit dengan kecepatan mencapai 40-50 km/jam. Angin bersifat lokal dan luasannya sekitar sepuluh kilometer.

Awan Cb, imbuhnya, dapat menyebabkan terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir dan angin kencang. Berdasarkan citra satelit pada Rabu (7/9), pukul 16:00 hingga 20:00, terjadi pertumbuhan awan Cb disekitar Bogor. “Masyarakat harus mewaspadai puting beliung dengan mengenali tanda-tandanya,” terangnya.

Puting beliung dapat diketahui dengan memperhatikan tanda-tanda sebelum kemunculannya. Dapat dipastikan, sehari sebelum kemunculannya, udara pada malam hari hingga pagi panas atau pengap dan gerah. Sekitar pukul 10:00 pagi, terlihat tumbuh awan Cb berlapis-lapis. Di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepi sangat jelas berwarna abu-abu dan menjulang tinggi seperti bunga kol sayuran.

Untuk mengetahui kedatangan puting beliung juga bisa dengan mengamati dahan dan ranting pepohonan di sekitar. Jika dahan bergoyang cepat dan terasa ada sentuhan udara dingin, ada kemungkinan puting beliung akan menyerang. Namun, sebelumnya ditandai dengan hujan deras secara tiba-tiba, serta sambaran petir yang cukup keras. Puting beliung lebih sering terjadi pada siang hari dengan kecepatan 30 hingga 40 knots serta berdurasi singkat. (ful/rur/ric)

Selasa, 06 September 2011

Gempa Aceh 6,7 SR, Warga Mengungsi ke Bukit

VIVAnews - Gempa 6,7 skala Richter yang mengguncang Singkil Baru, Nanggroe Aceh Darussalam, sempat membuat warga lari ke perbukitan. Mereka khawatir akan terjadi bencana tsunami pasca gempa yang berada di kedalaman 78 kilometer itu. Sobki, warga Singkil yang dihubungi VIVAnews.com menyebutkan, sebagian warga Singkil yang berada di pinggiran pantai kini memilih meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat yang lebih aman. "Hanya sebagian saja yang pergi ke arah Kecamatan Gunung Meriah, di sana daerah perbukitan. Tapi, banyak juga warga yang tetap bertahan di rumahnya," kata Sobki kepada VIVAnews.com, Selasa 6 September 2011. Saat gempa terjadi, Sobki mengaku merasakan getaran gempa yang cukup kuat. "Barang-barang di rumah saya ada yang berjatuhan," kata dia. Hingga kini belum diperoleh informasi adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa dalam peristiwa itu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebutkan gempa terjadi pada pukul 00.55.12 WIB di kedalaman 78 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 59 kilometer Timur Laut Singkil Baru, NAD. Gempa dirasakan hampir di seluruh wilayah di Aceh. Di Banda Aceh gempa dirasakan dengan dua kali hentakan. Warga panik dan berhamburan keluar rumah. Belum diketahui adanya korban jiwa. "Getarannya cukup kuat, tapi belum ada laporan kerusakan," kata Munawier, warga Beurawe, Banda Aceh. Sementara itu, di Pulau Simeulue, gempa juga dirasakan cukup kuat. "Getarannya kencang sekali, bangunan rumah sakit seperti mau roboh," kata Ivonda Sari, perawat di rumah sakit umum Simeulue. (Laporan: Muhammad Riza, Aceh l art)

Rabu, 24 Agustus 2011

Gempa 5,9 SR Guncang AS, Bandara JFK Ditutup

Egir Rivki - detikNews

New York - Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) melanda wilayah Virginia, Amerika Serikat. Gempa juga menggetarkan kota Washington DC, New York dan sepanjang pantai timur Amerika Serikat.

Menurut Foxnews, Rabu (24/8/2011), gempa membuat beberapa gedung-gedung penting di Amerika dievakuasi. Termasuk gedung FBI, US Capitol, dan Pentagon.

Bahkan bandara John F Kennedy yang berada di kota New York juga ditutup karena guncangan gempa tersebut. Foxnews mengabarkan seluruh petugas yang bekerja di menara kontrol bandara JFK, dievakuasi karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Guncangan juga membuat pejabat Pentagon hingga pegawai yang tinggal di gedung berlarian.

Sebelumnya, badan Survei Geologi Amerika Serikat (AS), USGS, menjelaskan gempa yang menghantam kota Virginia berada pada kedalaman 3,7 mil dan berjarak sekitar 83 Km dari ibu kota Amerika Serikat, Washington DC.

Kamis, 18 Agustus 2011

PMI siagakan relawan gunung berapi


Jakarta (ANTARA News) - Palang Merah Indonesia (PMI) menyiagakan 152 relawannya untuk merespon kemungkinan dampak peningkatan aktifitas enam gunung berapi di Indonesia, yaitu Gunung Marapi dan Kerinci (Sumatera), Soputan, Lokon dan Karangetan (Sulawesi) serta Gunung Papandayan (Jawa Barat).

"Para relawan diturunkan dari PMI Kabupaten Padang Pariaman, PMI Kota Pariaman, PMI Kota Bukit Tinggi, PMI Kabupaten Agam, PMI Kabupaten Tanah Datar, PMI Kabupaten Kayu Aro dan PMI Kabupaten Kerinci" kata Kepala Markas PMI Provinsi Sumatera Barat Hidayatul Irwan ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Irwan menjelaskan ratusan personil ini merupakan anggota Satgana (Satuan Penanggulangan Bencana), relawan KSR (Korps Sukarela) yang mayoritas adalah mahasiswa dan SIBAY (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat).

Di Sumatera Barat, PMI setempat menurunkan 75 relawan Satgana, 15 anggota SIBAT dan 10 anggota KSR untuk siaga dan terus memantau aktivitas Gunung Marapi.

Sebagai dukungan terhadap respon cepat PMI untuk keenam gunung berapi ini, PMI membentuk Pusat Bantuan Bencana di enam regional, yaitu Serang, Semarang, Surabaya, Padang, Banjarmasin dan Makassar.

Pusat Bantuan Bencana ini akan dilengkapi dengan gudang bantuan logistik, armada amphibi (haglund), rumah sakit lapangan, ambulans, perlengkapan produksi air bersih untuk kondisi darurat, tangki air, truk dan berbagai fasilitas pendukung. (ANT)

Selasa, 16 Agustus 2011

Sampit dikepung ratusan titik panas dan asap

Sampit, Kalteng (ANTARA News) - Ratusan titik panas (hotspot) dan asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan mengepung Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Kotawaringin Timur, Ian Septiawan di Sampit, Selasa, mengatakan, jumlah titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur terus bertambah.

Terhitung sejak 1-15 Agustus 2011 di Kotawaringin Timur ada sebanyak 144 titik panas.

Kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur sulit dikendalikan sehingga mengakibatkan jumlah titik panas terus bertambah banyak dan jumlahnya telah mencapai ratusan.

Sebagian besar masyarakat membuka lahan pertanian dengan cara membakar, sehingga mengakibatkan asap semakin tebal menyelimuti Kota Sampit dan sekitarnya.

"Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menutupi Kota Sampit dan sekitarnya telah mengganggu jalur transportasi udara dan sungai serta mengganggu kesehatan masyarakat," katanya.

Sementara Kepala Seksi Keamanan dan Keselatan Penerbangan Bandara Haji Asan Sampit, Harianto mengatakan, pelayanan penerbangan telah terganggu karena landasan pacu tertutup oleh asap.

"Demi keamanan dan keselatan penumpang, sejumlah penerbangan terpaksa kami tunda hingga kondisi landasan pacu benar-benar terbebas dari saputan asap," terangnya.

Dirinya berharap asap yang menutupi landasan pacu tidak berlangsung lama dan tidak semakin pekat, sebab apabila tidak pelayanan penerbangan akan dihentikan dan hal itu tentunya akan mengganggu arus mudik lebaran 1432 Hijriyah. (ANT)

Sabtu, 06 Agustus 2011

Gunung Guntur Garut Simpan Letusan Dahsyat


VIVAnews - Gunung Guntur di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi salah satu gunung yang menjadi perhatian pemerintah karena aktivitasnya meningkat. Lokasinya ada di timur Gunung Papandayan, Garut, lebih dekat ke Bandung.

"Gunung ini sudah lama sekali tidak meletus. Masyarakat cuek dan lupa," kata Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi Kementerian ESDM, Agus Budianto, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Sabtu 6 Agustus 2011.

Menurut Agus, letusan terakhir Gunung Guntur terjadi pada 1874 atau sekitar 137 tahun lalu. Saat itu tidak ada data yang terekam terkait korban jiwa dan kerusakan yang diakibatkan Gunung setinggi 2.249 dari permukaan laut itu.

Apa yang menunjukkan Gunung Guntur ini merupakan gunung api aktif? "Dari manifestasi yang ada, di sekitar itu masih ada sumur-sumur gas magmatik seperti belerang dan lain-lain," kata Agus.

Meski ada aktivitas, menurut Agus, status Gunung Guntur masih normal. Belum ditingkatkan menjadi Waspada. Tetapi, Agus mengingatkan akan potensi meletusnya Gunung Guntur.

"Saat ini pemantauan monitor dari kami sudah sangat lengkap. Karena ini merupakan gunung api yang juga mengkhawatirkan," kata Agus. Mengapa mengkhawatirkan? Tipe gunung seperti ini, yang terakhir kali meletus dan beraktivitas sekitar 200 sampai 300 tahun lalu justru menyimpan energi yang luar biasa.

Tipe gunung seperti ini, yang sering banyak 'diam' justru semakin mengumpulkan energi yang besar. "Semakin lama dia diam, di dalam itu terjadi pembentukan energi," jelas Agus.

Gunung Guntur merupakan salah satu dari 77 gunung api aktif Tipe A. Artinya, gunung yang terakhir meletus sekitar tahun 1600. "Gunung-gunung tipe ini hanya meletus di masa depan, atau di masa sekarang," kata Agus. Dari 77 gunung api itu, yang kerap menunjukkan aktivitasnya ada 18 gunung.

Yang dikhawatirkan, lokasi Gunung Guntur merupakan pusat lokasi wisata air panas. Banyak pula hotel atau tempat penginapan di lokasi itu. Belum lagi posisi pusat kegiatan masyarakat tepat berada di bawah kaki gunung yakni sekitar 2 kilometer. (sj)

Rabu, 03 Agustus 2011

BMKG : Titik Api di Sumatera Capai 267

Padang (ANTARA News)- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Padang mendeteksi keberadaan titik api di Sumatera berdasarkan pemantauan mencapai 267 titik.

"Keberadaaan titik api tersebut tersebar di Provinsi Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat dan Sumatera Utara menyebabkan daerah tersebut diselimuti kabut asap," kata Analisis BMKG Padang, Fitri di Padang, Selasa.

Ia mengatakan hampir 75 persen titik api tersebut berasal dari Provinsi Riau yang memicu terjadinya kabut asap hingga ke Sumatera Barat.

"Namun hingga saat ini jarak pandang masih berkisar 10 kilometer dimana masih aman untuk penerbangan," lanjut dia.

Dikatakannya, hingga tiga hari kedepan titik api tersebut kemungkinan akan terus bertambah mengingat prediksi cuaca masih akan cerah berawan.

Berdasarkan pantauan BMKG, dalam tiga hari kedepan cuaca masih cerah berawan sehingga pada siang hari akan panas dan kering.

Menurutnya, jika hujan turun maka keberadaaan titk api tersebut akan berkurang .

Ia mengatakan banyaknya titik api tersebut diduga karena adanya masyarakat yang membakar lahan kemudian menyebabkan terjadinya kebakaran hutan.

"Dalam kondisi cuaca yang panas dan kering kebakaran hutan sangat mudah terjadi karena itu masyarakat diminta untuk waspada," kata dia.

Sementara suhu udara di Sumatera Barat mencapai 21 derajat celcius pada pagi hari dan 31 derajat pada siang hari.

Angin bertiup rata-rata dari barat daya hingga barat dengan kecepatan 06-26 kilometer per jam serta kelembaban udara rata-rata antara 62-91 persen.
(*)