[Merapi Masih Simpan Energi Besar] Merapi Masih Simpan Energi Besar
Yogyakarta (ANTARA) - Gunung Merapi masih menyimpan energi yang besar, sehingga Badan Geologi belum dapat memprediksi kapan letusannya akan mereda.
"Sejak 3 November 2010 sampai sekarang Merapi telah empat hari meletus tanpa henti, itu berarti energi yang tersimpan masih besar," kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar, di Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, energi yang dikeluarkan Gunung Merapi sejak letusan 3 November hingga 7 November 2010 masih terus berlangsung hingga sekarang, bahkan lebih besar dibanding letusan pertama yang terjadi pada 26 Oktober 2010.
Ia mengatakan energi letusan Gunung Merapi pada 3-7 November 2010 tiga kali lebih besar dengan energi letusan pada 26 Oktober 2010. "Kami tidak dapat memprediksi kapan energi tersebut habis, sehingga Gunung Merapi tidak lagi meletus. Sekarang, kita ikuti dulu saja apa yang dimaui gunung ini," katanya.
Meskipun energi yang dimiliki Merapi masih besar, namun Sukhyar mengatakan untuk sementara radius aman masih ditetapkan pada jarak di luar 20 kilometer dari puncak gunung.
Penetapan radius aman tersebut, menurut dia didasarkan pada data-data sejarah letusan Gunung Merapi, khususnya jarak luncur awan panasnya. "Berdasarkan fakta sejarah, jarak luncur awan panas Merapi tidak pernah lebih dari 15 kilometer, yaitu hanya berkisar 12-13 kilometer, sehingga radius 20 kilometer itu belum akan diubah," katanya.
Kawah berdiameter 400 meter yang telah terbentuk di puncak gunung ini lebih terbuka ke selatan atau mengarah ke hulu Kali Gendol, sehingga awan panas yang diluncurkan Merapi akan mengarah ke kali tersebut.
Namun demikian, Sukhyar mengatakan sebanyak 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus tetap diwaspadai, khususnya untuk ancaman awan panas dan lahar dingin.
Sementara itu, intensitas gempa vulkanik Gunung Merapi pada Minggu pukul 00.00 sampai pukul 00.06 WIB kembali meningkat dibanding dua hari sebelumnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono mengatakan berdasarkan laporan hasil pemantauan aktivitas Merapi hingga pukul 06.00 WIB telah terjadi 31 kali gempa vulkanik.
"Intensitas gempa vulkanik tersebut meningkat cukup tinggi dibanding Jumat dan Sabtu. Pada Jumat (5/11) sama sekali tidak ada gempa vulkanik," katanya, di Yogyakarta.
Selain meningkatnya intensitas gempa vulkanik, Gunung Merapi juga masih terus meluncurkan awan panas, dan awan panas beruntun terjadi pada pukul 03.02 WIB yang meluncur ke Kali Gendol dan Kali Woro. "Rentetan awan panas tersebut diawali dengan gempa vulkanik," katanya.
Sementara itu, suara gemuruh Merapi juga masih terdengar beruntun dari Kecamatan Kemalang dan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada pukul 03.00 hingga pukul 05.30 WIB.
Kolom asap letusan setinggi enam kilometer berwarna kelabu condong ke barat terlihat dari Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, dan kilat terlihat dari Yogyakarta.
PVMGB masih mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai ancaman banjir lahar karena intensitas hujan masih tinggi, apalagi material erupsi terus bertambah.
Masyarakat juga tetap diminta untuk tidak beraktivitas di sepanjang alur sungai yang berhulu di Merapi, yang meliputi Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising, dan Kali Apu.
Status aktivitas vulkanik gunung berapi ini masih tetap "awas", dan wilayah aman bagi pengungsi serta masyarakat adalah tetap di luar radius 20 kilometer.
Terdengar sampai Gunung Kidul
Suara gemuruh Gunung Merapi terdengar sampai Kecamatan Semin, wilayah paling utara Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu pagi.
"Suara gemuruh Gunung Merapi menjelang Shalat Shubuh membuat warga khawatir dan kemudian mereka memukul kentongan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gempa karena gemuruh itu terdengar cukup lama," kata Kepala Desa Bendung, Kecamatan Semin, Sukardi di Semin.
Ia mengatakan sempat mencari sumber suara gemuruh tersebut dengan melihat ke arah Gunung Merapi dari depan kantor Balai Desa Bendung bersama sejumlah warga.
"Kami penasaran dengan suara gemuruh pagi tadi dan berusaha melihat Gunung Merapi dari depan kantor Balai Desa Bendung dan yang terlihat adalah sinar merah menyala seperti bara pada arah barat daya yang merupakan letak Gunung Merapi dari tempat kami," katanya.
Meskipun jaraknya jauh dari Gunung Merapi, Sukardi mengatakan tetap mengimbau warganya meningkatkan kewaspadaan.
Suara gemuruh tersebut sempat membuat anak-anak dan warga ketakutan, karena suaranya terdengar begitu jelas, terkadang volumenya sangat jelas dan kadang mereda. Gemuruh itu terdengar dalam waktu hampir dua jam.
"Anak-anak kami yang sudah terbangun menjadi takut dan tidak mau ditinggal, karena mendengar suara gemuruh itu," kata salah seorang warga Dusun Pencil, Bendung, Semin, Rukmini yang rumahnya berada di bukit.
Suara gemuruh pada Minggu pagi tersebut membuat banyak warga menjadi penasaran dan berkumpul di tempat-tempat yang lebih tinggi, dan tidak terhalang pepohonan agar dapat melihat ke arah Merapi.
Sementara itu, aktivitas seismik Merapi hingga Minggu pukul 12.00 WIB masih tinggi, ditandai dengan gempa tremor, guguran, awan panas beruntun, dan 31 kali gempa vulkanik.
Berdasarkan data dari PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Minggu, aktivitas seismik gunung ini sampai sekarang masih tinggi, sehingga masyarakat diminta waspada dengan mematuhi jarak aman di luar radius 20 kilometer.
Laporan pengamatan Gunung Merapi dari Pos Ketep menyebutkan pada Minggu pukul 09.00 WIB terjadi banjir lahar skala kecil di Kali Pabelan di wilayah Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dan diikuti hujan abu dan pasir vulkanik dalam radius 10 kilometer dari puncak gunung ini.
Warga masyarakat di "ring road" barat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan di Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), masih mendengar suara gemuruh serta suara yang menggelegar dari puncak gunung di perbatasan DIY dan Jateng itu.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo mengatakan pihaknya telah memasang dua alat seismometer yang ditempatkan di Ketep dan Museum Gunung Merapi untuk melengkapi alat di Pos Plawangan.
Kedua alat tersebut digunakan untuk menggantikan tiga alat pemantauan yang telah rusak terkena letusan Gunung Merapi. "Kemungkinan besar masih akan ada lokasi baru, tetapi masih dikaji lokasi yang aman sekaligus mampu memancarkan sinyal yang baik ke BPPTK," katanya.
Hanya isu
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta Subandrio menegaskan tidak benar akan terjadi awan panas sejauh 60 kilometer dari puncak Gunung Merapi, karena kabar itu hanya isu.
"Masyarakat diminta tetap tenang, jangan panik, karena dalam sejarah Merapi belum pernah terjadi luncuran awan panas sejauh itu," katanya, di Yogyakarta, Minggu, menanggapi berbagai isu mengenai Gunung Merapi yang meresahkan masyarakat yang di antaranya menyebutkan akan terjadi awan panas sejauh 60 kilometer.
Oleh karena itu, kata dia, masyarakat diminta tetap tenang, dan mengikuti imbauan institusi yang berwenang seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, maupun Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK).
"Masyarakat tidak perlu terpengaruh adanya isu tersebut, dan luncuran awan panas tidak mungkin melampaui jarak hingga ke zona aman yang telah ditentukan yaitu di luar 20 kilometer," katanya.
Subandrio mengatakan awan panas memang masih terjadi, dan antara pukul 11.00 hingga pukul 12.00 WIB, Minggu, terdengar suara gemuruh cukup keras dari Gunung Merapi. "Awan panas pada hari itu jarak luncurnya sejauh 1,5 kilometer hingga lima kilometer, dan dominan ke arah hulu Kali Gendol dan Woro," katanya.
Menurut dia, dalam beberapa hari terakhir arah luncuran awan panas ke hulu Kali Gendol, Boyong, dan Kali Krasak. "Tetapi pada Minggu, dominan ke Kali Gendol dan Woro," katanya.
Ia mengatakan Kali Gendol saat ini sudah dipenuhi endapan awan panas, karena awan panas terus-menerus terjadi sejak letusan pada 26 Oktober 2010. "Kali Gendol sekarang sudah penuh dengan endapan awan panas, dan apabila masih terus bertambah dengan volume yang sama, maka jika terjadi awan panas yang menuju ke sungai itu jarak luncurnya bisa jauh," katanya.
Meskipun luncuran awan panas bisa jauh, kata Subandrio tidak akan lebih dari 20 kilometer. "Namun, yang harus diwaspadai, awan panas Merapi saat ini terjadi terus menerus, dan setiap saat luncurannya bisa berubah arah," katanya.
Sehingga, kata dia, jika ada warga masuk ke zona tidak aman, itu sangat berisiko. "Oleh karena itu, agar warga tidak sering menengok ternak sapinya yang masih berada di zona tidak aman, sebaiknya sapi itu dibawa turun atau dievakuasi, atau bagaimana caranya lebih baik dijual," katanya.
Isu meresahkan
Sementara itu, seorang pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai isu terkait erupsi Gunung Merapi, karena dengan meneruskan isu melalui pesan layanan singkat kepada orang lain, berarti ikut menyebarluaskan isu yang belum tentu benar, tetapi justru meresahkan.
"Jangan percaya isu mengenai erupsi Merapi, karena isu itu belum tentu benar, dan ikuti saran serta imbauan pemerintah khususnya dari institusi resmi yang memiliki kewenangan terkait dengan perkembangan aktivitas gunung tersebut seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta," kata pakar geologi dari Universitas Gadjah Mada Agus Hendratno, di Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, sudah ada institusi resmi dari pemerintah yaitu PVMBG dan BPPTK yang memiliki kewenangan penuh untuk urusan Gunung Merapi sekaligus menginformasikannya kepada pemerintah daerah dan masyarakat guna mengambil langkah-langkah yang tepat terkait dengan upaya penyelamatan.
"Institusi-institusi pemerintah itu yang semestinya diikuti dan dipatuhi, bukan isu-isu yang tidak jelas sumbernya yang hanya menambah keresahan dan kepanikan," katanya.
Sedangkan terkait dengan pengungsi Merapi, Agus Hendratno yang juga pemerhati dan mempelajari mitigasi bencana, berpendapat, pemerintah perlu memberikan bantuan dana sekadarnya kepada pengungsi khususnya kepala keluarganya untuk menunjang mobilitas mereka selama berada di tempat pengungsian.
Ia memberi gambaran selama ini setiap terjadi bencana dan kemudian pengungsi ditampung di suatu tempat, pemerintah dan para pihak penyumbang lebih banyak memberi bantuan berupa logistik terutama bahan pangan dan makanan siap dikonsumsi, serta obat-obatan maupun keperluan utama lainnya.
"Tetapi sering, salah satu di antara bantuan-bantuan tersebut jumlahnya berlebihan, karena tidak ada pengaturan dalam penyalurannya ke beberapa lokasi pengungsi, sehingga tidak jarang bantuan berupa nasi bungkus misalnya sampai basi karena menummpuk dan jumlahnya berlebihan, sehingga mubazir," katanya.
Oleh karena itu, dari pengalaman selama ini alokasi dana dari pemerintah untuk pengadaan logistik khususnya bahan pangan ketimbang jumlahnya berlebihan, maka lebih baik diberikan berupa uang, tetapi jangan terlalu besar atau secukupnya, untuk keperluan biaya mobilitas kepala keluarga pengungsi di antaranya membeli bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraannya, maupun membeli pulsa untuk telepon selulernya.
"Sebab, mereka selama di tempat pengungsian pasti melakukan komunikasi menggunakan telepon seluler dengan saudara maupun keluarganya di luar daerah, begitu pula mobilitasnya pasti tinggi, apalagi sebagai kepala keluarga," katanya.
Agus mengatakan siapa pun yang berada di tempat pengungsian untuk jangka waktu yang tidak jelas, karena bisa hanya beberapa hari, tetapi bisa juga lama, tentunya mengganggu konsentrasi pekerjaannya, terutama yang wiraswasta maupun pedagang serta petani dan peternak. "Mereka tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya, dan tentu di antara mereka hanya sebagian yang memiliki tabungan," katanya.
Mahasiswa pulang kampung
Ribuan mahasiswa asal luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan puluhan mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, memilih pulang kampung karena takut dengan letusan Merapi.
"Sekitar 71 dari 300 mahasiswa asal Malaysia pada Minggu ini sudah pulang ke negaranya dan sisanya masih dalam proses kepulangan," kata Kepala Humas dan Protokoler Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Suryo Baskoro, Minggu.
Sementara ribuan mahasiswa asal luar daerah juga pulang, menyusul kebijakan sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY yang meliburkan kegiatan kuliah hingga 13 November 2010.
Beberapa PTN dan PTS yang meliburkan kegiatan kampus, antara lain UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Indonesia (UII), Uviversitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan berbagai universitas lain.
"Saya memilih pulang kampung ke Bengkulu karena kampus meliburkan perkuliahan agar lebih tenang dan aman," kata Fina mahasiswa Fakultas Psikologi UII saat sedang menukarkan uang pembelian tiket di Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
Nurlianingsih, mahasiswa semester pertama Sastra Inggris UNY mengaku dirinya memilih pulang karena orang tuanya terus menelepon dan khawatir. "Kebetulan kuliah diliburkan dan saya memilih pulang agar keluarga dan orang tua tenang," katanya saat di temui di Stasiun Tugu Yogyakarta.
Berdasarkan pantauan, hampir semua sarana transportasi kereta api dan bus dipenuhi penumpang, bahkan lonjakan penumpang mulai Jumat (5/11) sore dengan tujuan berbagai kota lain naik hingga 100 persen.
Selain pulang kampun tidak sedikit pula mahasiswa yang memilih menjadi relawan bagi korban bencana letusan Gunung Merapi. "Yang penting orang tua tahu kondisi saya aman. Sekali-kali ingin berbuat dan berguna buat orang lain. Padahal selama ini saya tidak pernah masak," katanya Susanti mahasiswi yang menjadi relawan.
"Bencana Merapi juga membutuhkan relawan, makanya kami liburkan hinga 13 November 2010 agar mahasiswa bisa pulang atau menjadi relawan," kata Suryo.
Korban meninggal 88 orang
Korban meninggal dunia akibat letusan awan panas vulkanik Gunung Merapi hingga Minggu siang yang berada di instalasi Forensik Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta bertambah empat orang sehingga menjadi 88 orang.
"Korban meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Sardjito Yogyakarta bertambah lagi empat orang dari sebelumnya 84 orang sehingga menjadi 88 orang, sebanyak 31 korban di antaranya berhasil diidentifikasi," kata Kepala Bagian Hukum dan Humas RS Sardjito Yogyakarta Trisno Heru Nugroho, di Yogyakarta, Minggu.
Jumlah meninggal di RS Sardjito Yogyakarta akibat letusan awan panas Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari terdiri atas 35 laki-laki dewasa, 35 perempuan dewasa, 11 anak-anak, dan tujuh jenazah tidak diketahui jenis kelaminnya. Sebanyak 31 jenazah sudah dapat teridentifikasi, namun baru sembilan jenazah yang diambil keluarganya.
Ia mengatakan sebagai rumah sakit rujukan pasien korban letusan Gunung Merapi maka RS Dr Sardjito hingga Minggu pagi menerima sebanyak 138 pasien luka bakar dan luka lainnya yang masuk ke instalasi rawat darurat, dan 61 di antaranya telah diizinkan pulang.
Korban letusan yang masih menjalani rawat inap di RS ini adalah sebanyak 30 pasien luka bakar dan 47 pasien nonluka bakar. Mereka kini tengah mendapat perawatan intensif dari kalangan tim medis rumah sakit ini, katanya.
Korban meninggal akibat letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/11) dini hari rencananya akan dimakamkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum Sayegan, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Minggu sekitar pukul 15.00 WIB.
"Serah terima jenasah akan dilakukan di RS Sardjito pada pukul 13.00 WIB yang akan diterima Asisten Sekretaris Daerah II Pemerintah Kabupaten Sleman Sunartono," katanya.
Menurut dia, jenazah yang akan dimakamkan secara massal tersebut adalah jenazah yang belum dapat teridentifikasi serta jenazah yang belum diambil oleh keluarganya. "Sesuai dengan ketentuan, dalam waktu 3x24 jam apabila ada jenazah yang belum bisa teridentifikasi, maka jenazah tersebut akan dimakamkan," katanya.
Ia mengatakan dari total 88 jenazah yang akan dimakamkan secara massal sebanyak 79 orang, karena jenazah yang lain telah diambil keluarganya masing-masing untuk dimakamkan.
Sementara itu, sebanyak 77 jenazah korban letusan Gunung Merapi pada Jumat (5/11), dimakamkan secara massal di pemakaman Dusun Beran, Desa Margodadi, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Minggu malam.
"Jenazah yang dimakamkan itu adalah yang sudah teridentifikasi maupun belum," kata Kepala Bidang Kedokteran Kepolisian Polda DIY AKBP Agustinus di Yogyakarta.
Menurut dia, jumlah jenazah yang berada di Instalasi Forensik RS Dr Sardjito hingga Minggu adalah 88 jenazah, namun baru dapat teridentifikasi 43 jenazah dan sisanya belum dapat teridentifikasi.
Sebanyak enam jenazah dari korban langsung letusan Gunung Merapi dan dua jenazah yang meninggal di bangsal RS Dr Sardjito telah diambil oleh keluarganya, dan hingga sekarang masih ada tujuh jenazah hasil evakuasi Minggu pagi yang masih berada di Instalasi Forensik RS Dr Sardjito.
Agustinus mengatakan, meskipun dimakamkan secara massal, namun tiap-tiap jenazah akan diberi nisan untuk membuat nama bagi jenazah yang sudah teridentifikasi dan nomor label bagi jenasah yang belum teridentifikasi.
"Selebihnya, data ante mortem dan post mortem dari setiap jenazah tersebut akan disimpan oleh DVI yang bisa digunakan kembali apabila ada keluarga yang ingin melakukan konfirmasi," lanjutnya.
Sementara itu, dr Lipur dari bagian forensik RS Dr Sardjito mengatakan bahwa tujuh jenazah yang baru diterima RS Dr Sardjito tersebut masih akan diidentifikasi. "Bagian rekonsiliasi yang menyatukan data ante mortem dan post mortem pun masih terus bekerja," katanya.
Hingga Minggu, Pos Ante Mortem di RS Dr Sardjito telah menerima sekitar 200 laporan orang hilang.
Tinjau kantor BNPB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu, meninjau kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jalan Kenari Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri tiba di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekitar pukul 15.00 WIB.
Di tempat tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selain meninjau ruang kantor, juga mendapat penjelasan mengenai kondisi terkini Gunung Merapi. Penjelasan disampaikan Kepala BNPB Syamsul Maarif.
Usai mendapat penjelasan, Presiden Yudhoyono kemudian meninjau ruang media center. Ketika masuk ruangan, presiden langsung mengucapkan terima kasih kepada insan pers. "Terima kasih, terima kasih, telah menyampaikan informasi kepada rakyat mengenai kondisi Gunung Merapi," katanya.
Menurut dia, rakyat ingin mengetahui perkembangan Merapi dan penanganan yang dilakukan jajaran pemerintah. "Dengan adanya media center di kantor BNPB diharapkan akan memudahkan insan pers dalam menyampaikan informasi kepada rakyat," katanya.
Presiden Yudhoyono beserta rombongan selanjutnya meninjau kantor BPPTK Yogyakarta dan tempat pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Kabupaten Sleman.
Sementara itu, Ibu Negara Ani Yudhoyono mengajak anak-anak di kawasan lereng Gunung Merapi yang kini berada di tempat pengungsian Stadion Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, agar lebih mencintai Gunung Merapi.
Ajakan tersebut disampaikan Ibu Negara Ani Yudhoyono saat mengunjungi penampungan pengungsi anak-anak di Stadion Maguwoharjo Depok, Yogyakarta, Minggu.
Dalam kesempatan tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono ditunjukkan sebuah lukisan Gunung Merapi berserta dengan "wedhus gembel" (awan panas) yang keluar dari puncak Merapi hasil karya Tejo yang merupakan satu dari ratusan anak yang mengungsi karena bencana letusan gunung ini. "Ini gunung Merapi dan ini adalah `wedhus gembel`," kata Tejo.
Mendapat penjelasan tersebut Ibu Negara kemudian menanyakan kepada Tejo apakah rumahnya rusak akibat letusan Gunung Merapi dan dijawab tidak. "Apakah rumahmu rusak, sekarang semua harus mencintai Gunung Merapi karena Gunung Merapi merupakan ciptaan Tuhan," kata Ibu Negara.
Setelah itu, Ibu Negara meninjau dapur umum untuk para pengungsi letusan Gunung Merapi di area Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman.
Ibu Negara dan rombongan yang tiba sekitar pukul 10.30 WIB itu, langsung menuju ke lokasi penampungan pengungsi ibu dan balita di sisi barat Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Dalam kesempatan tersebut Ibu Negara menyalami ibu-ibu dan anak-anak serta membagikan bingkisan berupa buku-buku untuk anak-anak. "Maksud Ibu Negara berkunjung ke sini untuk bertemu dengan warganya yang sedang menderita, namun kenapa warga yang ingin bertemu justru dihalangi pagar betis tentara yang sangat rapat," kata salah satu pengungsi Sajarwo dari Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman.**3***
Kendaraan segala medan
Palang Merah Indonesia (PMI) berencana menerjunkan dua unit "Hagglundsdi" (kendaraan segala medan) untuk menembus medan yang berbahaya, dan menembus dusun-dusun yang diterjang awan panas Merapi, dan belum terevakuasi.
"Kami hari ini sudah terjunkan dua unit `Hagglundsdi` untuk membantu evakusi korban letusan Gunung Merapi di dusun-dusun yang belum tersentuh," kata Ketua PMI Jusuf Kalla di Pusat Pengungsi Stadion Maguwoharjo, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, pihaknya akan bekerja sama dengan Kopassus membantu evakuasi korban letusan Gunung Merapi. "Dipilihnya Kopassus karena mereka memiliki keahlian khusus mengunakan kendaraan `hagglundsdi` guna memperlancar evakuasi," papar mantan wapres ini.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar mengingatkan kondisi Merapi masih cukup berbahaya, sehingga tim evakuasi perlu berhati-hati.
"Wilayah yang diterjang awan panas masih sangat berbahaya dan sebaiknya dihindari tim evakuasi, serta menunggu sampai kondisi aman," katanya.
Menurut dia, saat ini arah luncuran awan panas sulit diprediksi, karena aktivitas vulkanik Merapi fluktuatif dan menyebar ke segala arah. "Saat ini, daya eksplosifitas Merapi memang mengalami penurunan, namun intensitas aktivitas vulkaniknya cukup tinggi. Bahkan berdasar pantauan pukul 03.00 WIB, letusan terjadi dan tinggi kolom asap mencapi enam Kilometer," katanya.
Ia menuturkan, kondisi tersebut mengindikasikan pasokan magma terus berlangsung, dan saat ini di puncak sudah terbentuk kawah berdiameter 400 meter. "Pasokan magma ke Merapi cukup besar, salah satunya diliat dari material vulkanik yang dikeluarkan sudah mencapai 100 juta meter kubik lebih," katanya.
Pemerintah telah membentuk tim untuk mendata dan mengidentifikasi sapi milik warga korban bencana erupsi Gunung Merapi di DIY dan Jateng, kata Menteri Pertanian Suswono. "Tim tersebut saat ini sedang menjalankan tugasnya," katanya di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, untuk mengganti sapi milik warga korban Merapi tersebut pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp100 miliar. Pemerintah masih membahas mengenai prosedur penggantian sapi tersebut.
"Kami akan melakukan kajian mengenai kepemilikan sapi tersebut, apakah sebagai mata pencaharian bagi pemiliknya atau tidak. Hal itu akan membedakan nilai penggantian, dan pemerintah akan mengganti dengan harga yang layak," katanya.
Sebelumnya, Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, pemerintah akan berupaya mengganti ternak sapi milik warga yang menjadi korban bencana letusan Gunung Merapi.
Namun, menurut dia, prosedur, mekanisme, dan besaran nilai penggantian sapi mati masih dalam pembahasan dan akan ditentukan indeksnya. "Jadi, pemerintah berupaya memberikan ganti rugi bagi pemilik sapi yang mati. Dengan demikian, tidak hanya sapi hidup yang diganti pemerintah," katanya.
Ia mengatakan, pemerintah menyiapkan pembelian sapi hidup di kawasan rawan bencana Merapi. Untuk pembelian sapi tersebut diperlukan prosedur dan akuntabilitas yang bisa dipertanggungjawabkan.
"Pembelian sapi tersebut merupakan salah satu upaya agar warga pemilik sapi tidak kembali ke daerah bahaya Merapi hanya untuk mengurusi ternaknya yang ditinggal mengungsi," katanya.
Mediant Global Mandiri merupakan gabungan dari beberapa kumpulan anak muda kreatif yang tergabung dalam : 1. Dian Production dan Chicak Music Studio serta Liar's Colection dan Aristya Colection , Beralamat di : Jln. H. Enang No. 28 Cisalak, Cimanggis Depok. telp: 0218732662
Positive Thinking
Positive Thinking Akan Sangat Membantu Pola Pikir Kita Dalam Berkomunikasi Antara Kita Serta berkreasi Maupun Dalam Menunjang Aktivitas Kita
Senin, 08 November 2010
Jumat, 05 November 2010
Berita Merapi dari Kantor Berita Antara
Kurang Dari 20 Km Terancam Bahaya Merapi
[Kurang Dari 20 Km Terancam Bahaya Merapi] Kurang Dari 20 Km Terancam Bahaya Merapi
Yogyakarta (ANTARA) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi menetapkan wilayah aman dari ancaman bahaya Gunung Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer dari puncak gunung, dari sebelumnya lebih dari 15 kilometer.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Surono, di Yogyakarta, Jumat dini hari, mengatakan, sejak pukul 00.55 WIB wilayah aman dari ancaman bahaya Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer.
Penetapan tersebut diambil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terkait dengan erupsi Merapi yang masih tinggi, termasuk kepanikan warga yang dikhawatirkan bisa menyebabkan musibah yang lain.
Suara gemuruh yang diduga dari Gunung Merapi terdengar sampai kota Yogyakarta, Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, sehingga menyebabkan kepanikan sebagian warga kawasan utara kota ini, dan terjadi peningkatan arus kendaraan yang melaju dari wilayah utara ke selatan.
Dilaporkan hujan pasir halus cukup deras mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman listrik padam sejak pukul 00.50 WIB.
Lereng Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Jumat, pukul 00.50 WIB, dihujani kerikil setelah sebelumnya mengeluarkan suara gemuruh yang desertai getaran keras dan petir sehingga membuat para pengungsi ketakutan.
Suara gemuruh, getaran keras, dan petir menyambar yang langsung disusul hujan kerikil membuat ribuan pengungsi bergegas turun gunung teraktif di Indonesia itu untuk mencari tempat perlindungan yang aman.
Hal ini membuat ribuan pengungsi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan bergerak ke selatan mengendarai mobil, sepeda motor, dan kendaraan TNI. Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemerintah setempat membantu mengevakuasi pengungsi.
Mobil yang membawa kalangan pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang menggunakan kendaraan bermotor buru-buru menuju ke tempat yang aman. Pengungsi ada yang mengarah ke kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan bahkan ke arah Solo, Jawa Tengah.
Para pengungsi tidak sempat membawa benda apa pun karena terburu-buru ingin menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman setelah gunung yang teraktif di Indonesia itu mengeluarkan suara gemuruh keras dan hujan kerikil yang berlangsung hampir selama satu jam.
Peningkatan status tersebut dikarenakan aktivitas Gunung Merapi menunjukkan peningkatan yang membahayakan. Oleh karena itu, pemerintah setempat diimbau untuk segera mengevakuasi warga.
Arus kendaraan terus memadati jalan raya Kaliurang - Yogyakarta, ketika warga bergerak ke selatan atau menjauh dari Gunung Merapi, sejak Jumat dini hari pukul 01.00 WIB.
Dari pemantauan, kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat yang melaju di jalan itu tampak kotor karena abu dan pasir vulkanik yang melekat di kendaraan terkena air hujan sehingga lengket.
Listrik PLN di sebagian wilayah Kabupaten Sleman padam sejak pukul 01.15 WIB, sementara gerimis dan hujan abu serta kerikil vulkanik belum reda hingga pukul 02.10 WIB.
Sebelumnya, suara gemuruh yang diduga dari Gunung Merapi terdengar sampai kota Yogyakarta, Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, sehingga menyebabkan kepanikan sebagian warga kawasan utara kota ini, dan terjadi peningkatan arus kendaraan yang melaju dari wilayah utara ke selatan.
Dilaporkan hujan pasir halus cukup deras mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman listrik padam sejak pukul 00.50 WIB.
Ditampung di stadion
Belasan ribu pengungsi dari Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, memadati Stadion Maguwoharjo Sleman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.
Tampak ribuan sepeda motor memadati halaman stadion, sedangkan ratusan mobil, truk, dan pikap yang mengangkut para pengungsi parkir di stadion itu. Pemeritah kabupaten setempat membagi para pengungsi berdasarkan daerahnya masing-masing agar mudah terpantau.
Para pengungsi beristirahat sambil tiduran di tikar yang memang sudah disiapkan di stadion. Pengungsi yang terdiri atas orang tua, lansia, dan anak-anak tampak kelelahan setelah melakukan pengungsian dari daerahnya masing-masing dengan menggunakan sepeda motor, truk, dan pikap.
Anggota Polri, TNI, dan relawan hingga kini masih terus mengatur arus pengungsi letusan Gunung Merapi yang terus berdatangan ke Stadion Maguwoharjo Sleman.
Sebelumnya belasan ribu warga yang tinggal di Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan diungsikan ke tempat lebih aman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.
Aktivitas Gunung Merapi seperti itu membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menetapkan wilayah aman dari ancaman bahaya Gunung Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer dari puncak gunung dari sebelumnya 15 kilometer.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Surono mengatakan sejak pukul 00.55 WIB wilayah aman dari ancaman bahaya Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer.
Ribuan warga tersebut kini sedang menuruni lereng Merapi yang hujan abu serta jalan dipenuhi abu dan kerikil. Mereka mengenakan mobil, motor, dan kendaraan TNI. Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemerintah setempat membantu mengevakuasi para pengungsi.
Para pengungsi ini akan dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Kondisi jalan turunan menuju lokasi relokasi pengungsian padat sehingga terpaksa berjalan pelan-pelan karena jarak pandang terbatas karena abu vulkanik.
Mobil yang membawa kalangan pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang menggunakan kendaraan bermotor terburu-buru untuk menuju ke tempat aman. Pengungsi ada yang mengarah ke Uiversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah.
14 korban tewas
Sebanyak 14 korban tewas akibat terkena awan panas Gunung Merapi masih berada di Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, dan 50 korban lainnya mengalami luka bakar, Jumat.
Sementara itu, sebanyak 13 korban luka bakar awan panas Gunung Merapi warga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dirawat di Rumah Sakit Suradji Tirtonegoro Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat.
Mereka yang umumnya mengalami luka bakar 20-30 persen itu, adalah warga Kecamatan Cangkringan dan Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka dirawat di rumah sakit (RS) di Klaten, karena bangsal perawatan RS Dr Sardjito Yogyakarta tidak mampu lagi menampung para korban luka bakar tersebut.
Menurut salah seorang dokter di RS Suradji Tirtonegoro Klaten, jika ada pasien korban awan panas dengan luka bakar di atas 50 persen ke atas, harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan memadai peralatan medisnya.
Jumlah korban luka bakar akibat erupsi Merapi dan karena kecelakaan di tengah kepanikan warga, hingga Jumat pukul 04.35 WIB, sebanyak 50 orang.
Salah seorang dokter rumah sakit setempat, Sigit Priyo Hutomo, di Yogyakarta, mengatakan, di antara korban sebanyak itu, lima anak balita. Sedangkan korban meninggal akibat terkena awan panas Merapi tercatat satu orang balita.
Tujuh rumah di Blonggang, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terbakar karena diterjang awan panas Gunung Merapi, Jumat.
Menurut keterangan salah seorang anggota tim SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang keberatan disebutkan namanya, masih puluhan warga yang sedang dievakuasi dari dusun itu, karena sudah jatuh korban satu orang tewas akibat terkena awan panas.
Korban tewas berjenis kelamin laki-laki itu, saat ini sedang dievakuasi dari wilayah bencana. Sedangkan 10 korban luka bakar akibat awan panas, sudah dibawa ke Rumah Sakit (RS) Dr Sardjito Yogyakarta untuk menjalani pengobatan dan perawatan. Mereka umumnya mengalami luka bakar sekitar 70 persen.
Di antara korban yang mengalami luka bakar, terdapat tiga orang yang masih berusia anak-anak, dengan kondisi yang memprihantinkan.
Blonggang, Kecamatan Cangkringan, jaraknya hanya sekitar delapan kilometer dari Gunung Merapi.
Terus disiagakan
Petugas sejumlah rumah sakit di Yogyakarta disiagakan, menyusul terjadinya letusan Merapi pada Jumat pukul 00.15 WIB, dan suara gemuruh yang terdengar sampai kota ini, sehingga menyebabkan kepanikan warga, dan kepadatan arus kendaraan di jalan raya.
Dari pantauan di Rumah Sakit Dr Sardjito, sejumlah mobil yang membawa pasien yang sebagian besar lanjut usia (lansis) yang mengalami sesak napas, tiba di rumah sakit ini.
Begitu pula di rumah sakit (RS) lainnya seperti RS Bethesda, RS Panti Rapih dan RS PKU Muhammadiyah, tampak kesibukan dengan kedatangan sejumlah pasien yang mengalami sesak napas akibat menghirup abu vulkanik Merapi.
Sedangkan sebagian pasien lain karena terluka akibat kecelakaan lalu lintas. Korban adalah pengendara kendaraan bermotor terutama roda dua yang matanya terkena abu maupun pasir vulkanik, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas, dan akibatnya bertabrakan dengan kendaraan lain atau menabrak.
Kota Yogyakarta hingga pukul 02.15 WIB, Jumat, masih diguyur abu dan pasir dari Gunung Merapi, sementara gerimis di wilayah Kabupaten Sleman belum reda, sehingga menyebabkan benda yang terkena material vulkanik itu tampak kotor.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta kepada warga masyarakat untuk mematuhi ketentuan jarak aman harus lebih dari 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
"Patuhi ketentuan itu agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," katanya di Yogyakartga, Jumat.
Sultan juga mengingatkan warga masyarakat untuk menggunakan masker jika berada di luar rumah, karena abu dan pasir vulkanik masih beterbangan di wilayah Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman. "Masker sangat penting untuk dipakai warga jika berada di luar rumah, apalagi jika berkendaraan bermotor roda dua," katanya.
Ia meminta kepada masing-masing pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini untuk mengusahakan pengadaan masker bagi warga masyarakat.
Mengenai aktivitas perkantoran, sekolah, perguruan tinggi, maupun perdagangan di Yogyakarta, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini berharap tidak sampai terhenti, tetapi kemungkinan hanya terhambat.
Sementara itu, pasien lanjut usia atau berusia 60 tahun ke atas yang merupakan warga Kota Yogyakarta akan memperoleh keringanan biaya pemeriksaan dan pengobatan hingga 60 persen apabila berobat di Puskesmas di kota tersebut.
"Keringanan biaya pemeriksaan dan pengobatan untuk warga Kota Yogyakarta yang telah lanjut usia ini merupakan terobosan baru dari peraturan daerah yang ada," kata Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di Yogyakarta, Jumat.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2010 tentang retribusi pelayanan kesehatan pada pusat kesehatan masyarakat yang menggantikan Perda Nomor 5 Tahun 2006, keringanan tarif pemeriksaan dan pengobatan untuk Lansia tersebut adalah klausul baru yang belum ada pada perda lama.
Selain itu, Lansia juga akan memperoleh keringanan sebesar 50 persen untuk tindakan lanjutan.
Penduduk Kota Yogyakarta juga akan memperoleh keringanan tarif 60 persen untuk pemeriksaan dan pengobatan serta 25 persen untuk tindakan lanjutan.
"Keringanan tarif untuk pemeriksaan dan pengobatan serta tindakan lanjutan ini sudah dihitung dengan baik, dan tidak akan ada pelayanan yang dikurangi dengan adanya keringanan biaya ini," katanya.
Namun demikian, Tri mengingatkan agar masyarakat Kota Yogyakarta yang ingin memperoleh keringanan biaya tersebut harus mematuhi persyaratan yang ditetapkan seperti membawa bukti identitas diri berupa kartu tanda penduduk (KTP) serta kartu pasien saat ingin memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas.
Berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tersebut, Puskesmas juga akan memperoleh pengembalian pendapatan sebesar 100 persen melalui mekanisme anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
"Pengembalian pendapatan tersebut lebih besar dibanding aturan dalam Perda Nomor 5 Tahun 2006, yaitu sebesar 67,5 persen," katanya.
Perkiraan total pendapatan dari 18 puskesmas di seluruh Kota Yogyakarta dalam satu tahun adalah sekitar Rp2,8 miliar.
Pengembalian pendapatan sebesar 100 persen tersebut kemudian akan digunakan untuk tiga kegiatan utama puskesmas yaitu 30 persen untuk usaha pemberdayaan masyarakat, 35 persen untuk operasional Puskesmas dan 35 persen untuk jasa layanan.
Kegiatan dalam usaha pemberdayaan masyarakat tersebut di antaranya adalah penyuluhan di wilayah tentang pola hidup bersih dan sehat.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mergangsan Titik Sumartiningsih mengatakan, perkiraan pengembalian pendapatan yang akan diterima puskesmas pada 2011 adalah sekitar Rp1,018 miliar.
"Dalam Perda telah diatur jelas pada 30 persen dari pengembalian pendapatan akan digunakan untuk kegiatan promotif dan preventif seperti penyuluhan-penyuluhan," katanya.
Berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tersebut, Puskesmas di Kota Yogyakarta juga memiliki enam jenis layanan baru yaitu, pelayanan psikologi, pelayanan perawatan rumah, pelayanan nebulizer, Naso Gastric Tube (NGT), laboratorium HIV/AIDS, dan peningkatan laboratorium klinis seperti pemeriksaan fungsi ginjal dan hati.
[Kurang Dari 20 Km Terancam Bahaya Merapi] Kurang Dari 20 Km Terancam Bahaya Merapi
Yogyakarta (ANTARA) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi menetapkan wilayah aman dari ancaman bahaya Gunung Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer dari puncak gunung, dari sebelumnya lebih dari 15 kilometer.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Surono, di Yogyakarta, Jumat dini hari, mengatakan, sejak pukul 00.55 WIB wilayah aman dari ancaman bahaya Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer.
Penetapan tersebut diambil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terkait dengan erupsi Merapi yang masih tinggi, termasuk kepanikan warga yang dikhawatirkan bisa menyebabkan musibah yang lain.
Suara gemuruh yang diduga dari Gunung Merapi terdengar sampai kota Yogyakarta, Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, sehingga menyebabkan kepanikan sebagian warga kawasan utara kota ini, dan terjadi peningkatan arus kendaraan yang melaju dari wilayah utara ke selatan.
Dilaporkan hujan pasir halus cukup deras mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman listrik padam sejak pukul 00.50 WIB.
Lereng Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Jumat, pukul 00.50 WIB, dihujani kerikil setelah sebelumnya mengeluarkan suara gemuruh yang desertai getaran keras dan petir sehingga membuat para pengungsi ketakutan.
Suara gemuruh, getaran keras, dan petir menyambar yang langsung disusul hujan kerikil membuat ribuan pengungsi bergegas turun gunung teraktif di Indonesia itu untuk mencari tempat perlindungan yang aman.
Hal ini membuat ribuan pengungsi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan bergerak ke selatan mengendarai mobil, sepeda motor, dan kendaraan TNI. Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemerintah setempat membantu mengevakuasi pengungsi.
Mobil yang membawa kalangan pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang menggunakan kendaraan bermotor buru-buru menuju ke tempat yang aman. Pengungsi ada yang mengarah ke kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan bahkan ke arah Solo, Jawa Tengah.
Para pengungsi tidak sempat membawa benda apa pun karena terburu-buru ingin menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman setelah gunung yang teraktif di Indonesia itu mengeluarkan suara gemuruh keras dan hujan kerikil yang berlangsung hampir selama satu jam.
Peningkatan status tersebut dikarenakan aktivitas Gunung Merapi menunjukkan peningkatan yang membahayakan. Oleh karena itu, pemerintah setempat diimbau untuk segera mengevakuasi warga.
Arus kendaraan terus memadati jalan raya Kaliurang - Yogyakarta, ketika warga bergerak ke selatan atau menjauh dari Gunung Merapi, sejak Jumat dini hari pukul 01.00 WIB.
Dari pemantauan, kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat yang melaju di jalan itu tampak kotor karena abu dan pasir vulkanik yang melekat di kendaraan terkena air hujan sehingga lengket.
Listrik PLN di sebagian wilayah Kabupaten Sleman padam sejak pukul 01.15 WIB, sementara gerimis dan hujan abu serta kerikil vulkanik belum reda hingga pukul 02.10 WIB.
Sebelumnya, suara gemuruh yang diduga dari Gunung Merapi terdengar sampai kota Yogyakarta, Jumat dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, sehingga menyebabkan kepanikan sebagian warga kawasan utara kota ini, dan terjadi peningkatan arus kendaraan yang melaju dari wilayah utara ke selatan.
Dilaporkan hujan pasir halus cukup deras mengguyur wilayah Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Di sebagian wilayah Kabupaten Sleman listrik padam sejak pukul 00.50 WIB.
Ditampung di stadion
Belasan ribu pengungsi dari Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, memadati Stadion Maguwoharjo Sleman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.
Tampak ribuan sepeda motor memadati halaman stadion, sedangkan ratusan mobil, truk, dan pikap yang mengangkut para pengungsi parkir di stadion itu. Pemeritah kabupaten setempat membagi para pengungsi berdasarkan daerahnya masing-masing agar mudah terpantau.
Para pengungsi beristirahat sambil tiduran di tikar yang memang sudah disiapkan di stadion. Pengungsi yang terdiri atas orang tua, lansia, dan anak-anak tampak kelelahan setelah melakukan pengungsian dari daerahnya masing-masing dengan menggunakan sepeda motor, truk, dan pikap.
Anggota Polri, TNI, dan relawan hingga kini masih terus mengatur arus pengungsi letusan Gunung Merapi yang terus berdatangan ke Stadion Maguwoharjo Sleman.
Sebelumnya belasan ribu warga yang tinggal di Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan diungsikan ke tempat lebih aman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.
Aktivitas Gunung Merapi seperti itu membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menetapkan wilayah aman dari ancaman bahaya Gunung Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer dari puncak gunung dari sebelumnya 15 kilometer.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Surono mengatakan sejak pukul 00.55 WIB wilayah aman dari ancaman bahaya Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer.
Ribuan warga tersebut kini sedang menuruni lereng Merapi yang hujan abu serta jalan dipenuhi abu dan kerikil. Mereka mengenakan mobil, motor, dan kendaraan TNI. Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemerintah setempat membantu mengevakuasi para pengungsi.
Para pengungsi ini akan dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Kondisi jalan turunan menuju lokasi relokasi pengungsian padat sehingga terpaksa berjalan pelan-pelan karena jarak pandang terbatas karena abu vulkanik.
Mobil yang membawa kalangan pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang menggunakan kendaraan bermotor terburu-buru untuk menuju ke tempat aman. Pengungsi ada yang mengarah ke Uiversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah.
14 korban tewas
Sebanyak 14 korban tewas akibat terkena awan panas Gunung Merapi masih berada di Rumah Sakit Dr Sardjito Yogyakarta, dan 50 korban lainnya mengalami luka bakar, Jumat.
Sementara itu, sebanyak 13 korban luka bakar awan panas Gunung Merapi warga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dirawat di Rumah Sakit Suradji Tirtonegoro Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat.
Mereka yang umumnya mengalami luka bakar 20-30 persen itu, adalah warga Kecamatan Cangkringan dan Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka dirawat di rumah sakit (RS) di Klaten, karena bangsal perawatan RS Dr Sardjito Yogyakarta tidak mampu lagi menampung para korban luka bakar tersebut.
Menurut salah seorang dokter di RS Suradji Tirtonegoro Klaten, jika ada pasien korban awan panas dengan luka bakar di atas 50 persen ke atas, harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan memadai peralatan medisnya.
Jumlah korban luka bakar akibat erupsi Merapi dan karena kecelakaan di tengah kepanikan warga, hingga Jumat pukul 04.35 WIB, sebanyak 50 orang.
Salah seorang dokter rumah sakit setempat, Sigit Priyo Hutomo, di Yogyakarta, mengatakan, di antara korban sebanyak itu, lima anak balita. Sedangkan korban meninggal akibat terkena awan panas Merapi tercatat satu orang balita.
Tujuh rumah di Blonggang, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terbakar karena diterjang awan panas Gunung Merapi, Jumat.
Menurut keterangan salah seorang anggota tim SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang keberatan disebutkan namanya, masih puluhan warga yang sedang dievakuasi dari dusun itu, karena sudah jatuh korban satu orang tewas akibat terkena awan panas.
Korban tewas berjenis kelamin laki-laki itu, saat ini sedang dievakuasi dari wilayah bencana. Sedangkan 10 korban luka bakar akibat awan panas, sudah dibawa ke Rumah Sakit (RS) Dr Sardjito Yogyakarta untuk menjalani pengobatan dan perawatan. Mereka umumnya mengalami luka bakar sekitar 70 persen.
Di antara korban yang mengalami luka bakar, terdapat tiga orang yang masih berusia anak-anak, dengan kondisi yang memprihantinkan.
Blonggang, Kecamatan Cangkringan, jaraknya hanya sekitar delapan kilometer dari Gunung Merapi.
Terus disiagakan
Petugas sejumlah rumah sakit di Yogyakarta disiagakan, menyusul terjadinya letusan Merapi pada Jumat pukul 00.15 WIB, dan suara gemuruh yang terdengar sampai kota ini, sehingga menyebabkan kepanikan warga, dan kepadatan arus kendaraan di jalan raya.
Dari pantauan di Rumah Sakit Dr Sardjito, sejumlah mobil yang membawa pasien yang sebagian besar lanjut usia (lansis) yang mengalami sesak napas, tiba di rumah sakit ini.
Begitu pula di rumah sakit (RS) lainnya seperti RS Bethesda, RS Panti Rapih dan RS PKU Muhammadiyah, tampak kesibukan dengan kedatangan sejumlah pasien yang mengalami sesak napas akibat menghirup abu vulkanik Merapi.
Sedangkan sebagian pasien lain karena terluka akibat kecelakaan lalu lintas. Korban adalah pengendara kendaraan bermotor terutama roda dua yang matanya terkena abu maupun pasir vulkanik, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas, dan akibatnya bertabrakan dengan kendaraan lain atau menabrak.
Kota Yogyakarta hingga pukul 02.15 WIB, Jumat, masih diguyur abu dan pasir dari Gunung Merapi, sementara gerimis di wilayah Kabupaten Sleman belum reda, sehingga menyebabkan benda yang terkena material vulkanik itu tampak kotor.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta kepada warga masyarakat untuk mematuhi ketentuan jarak aman harus lebih dari 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
"Patuhi ketentuan itu agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan," katanya di Yogyakartga, Jumat.
Sultan juga mengingatkan warga masyarakat untuk menggunakan masker jika berada di luar rumah, karena abu dan pasir vulkanik masih beterbangan di wilayah Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman. "Masker sangat penting untuk dipakai warga jika berada di luar rumah, apalagi jika berkendaraan bermotor roda dua," katanya.
Ia meminta kepada masing-masing pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini untuk mengusahakan pengadaan masker bagi warga masyarakat.
Mengenai aktivitas perkantoran, sekolah, perguruan tinggi, maupun perdagangan di Yogyakarta, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini berharap tidak sampai terhenti, tetapi kemungkinan hanya terhambat.
Sementara itu, pasien lanjut usia atau berusia 60 tahun ke atas yang merupakan warga Kota Yogyakarta akan memperoleh keringanan biaya pemeriksaan dan pengobatan hingga 60 persen apabila berobat di Puskesmas di kota tersebut.
"Keringanan biaya pemeriksaan dan pengobatan untuk warga Kota Yogyakarta yang telah lanjut usia ini merupakan terobosan baru dari peraturan daerah yang ada," kata Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di Yogyakarta, Jumat.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2010 tentang retribusi pelayanan kesehatan pada pusat kesehatan masyarakat yang menggantikan Perda Nomor 5 Tahun 2006, keringanan tarif pemeriksaan dan pengobatan untuk Lansia tersebut adalah klausul baru yang belum ada pada perda lama.
Selain itu, Lansia juga akan memperoleh keringanan sebesar 50 persen untuk tindakan lanjutan.
Penduduk Kota Yogyakarta juga akan memperoleh keringanan tarif 60 persen untuk pemeriksaan dan pengobatan serta 25 persen untuk tindakan lanjutan.
"Keringanan tarif untuk pemeriksaan dan pengobatan serta tindakan lanjutan ini sudah dihitung dengan baik, dan tidak akan ada pelayanan yang dikurangi dengan adanya keringanan biaya ini," katanya.
Namun demikian, Tri mengingatkan agar masyarakat Kota Yogyakarta yang ingin memperoleh keringanan biaya tersebut harus mematuhi persyaratan yang ditetapkan seperti membawa bukti identitas diri berupa kartu tanda penduduk (KTP) serta kartu pasien saat ingin memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas.
Berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tersebut, Puskesmas juga akan memperoleh pengembalian pendapatan sebesar 100 persen melalui mekanisme anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
"Pengembalian pendapatan tersebut lebih besar dibanding aturan dalam Perda Nomor 5 Tahun 2006, yaitu sebesar 67,5 persen," katanya.
Perkiraan total pendapatan dari 18 puskesmas di seluruh Kota Yogyakarta dalam satu tahun adalah sekitar Rp2,8 miliar.
Pengembalian pendapatan sebesar 100 persen tersebut kemudian akan digunakan untuk tiga kegiatan utama puskesmas yaitu 30 persen untuk usaha pemberdayaan masyarakat, 35 persen untuk operasional Puskesmas dan 35 persen untuk jasa layanan.
Kegiatan dalam usaha pemberdayaan masyarakat tersebut di antaranya adalah penyuluhan di wilayah tentang pola hidup bersih dan sehat.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mergangsan Titik Sumartiningsih mengatakan, perkiraan pengembalian pendapatan yang akan diterima puskesmas pada 2011 adalah sekitar Rp1,018 miliar.
"Dalam Perda telah diatur jelas pada 30 persen dari pengembalian pendapatan akan digunakan untuk kegiatan promotif dan preventif seperti penyuluhan-penyuluhan," katanya.
Berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 2010 tersebut, Puskesmas di Kota Yogyakarta juga memiliki enam jenis layanan baru yaitu, pelayanan psikologi, pelayanan perawatan rumah, pelayanan nebulizer, Naso Gastric Tube (NGT), laboratorium HIV/AIDS, dan peningkatan laboratorium klinis seperti pemeriksaan fungsi ginjal dan hati.
Rabu, 27 Oktober 2010
Berita Merapi dari Liputan 6 Com
Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud
Liputan 6
Liputan 6 - 4 menit lalu
[Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud] Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud
Liputan6.com, Sleman:Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan dikabarkan ikut menjadi korban meninggal dunia akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Jenazah mirip Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud.
Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu (27/10) pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.
"Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi," ujarnya.
Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon."Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri," katanya.
Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.
"Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava," jelasnya.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta.
"Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung. (Ant)
Liputan 6
Liputan 6 - 4 menit lalu
[Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud] Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud
Liputan6.com, Sleman:Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan dikabarkan ikut menjadi korban meninggal dunia akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Jenazah mirip Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud.
Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu (27/10) pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.
"Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi," ujarnya.
Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon."Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri," katanya.
Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.
"Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava," jelasnya.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta.
"Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung. (Ant)
Minggu, 04 Juli 2010
Berekreasi Sambil Berkreasi Di jalan Juanda Depok





Setiap minggu pagi sampai menjelang tengah hari, jalan Juanda Depok menjadi semacam pasar kaget yang keberadaannya hanya pada hari Minggu pagi sampai dengan menjelang siang hari, Cinthya Eyes mencoba meliput kecil-kecilan di daearah tersebut. Suasananya mirip pasar malam, segala kebutuhan ada tersedia disitu dengan harga yang relatif murah, hasil kreativitas seseorang banyak dipasarkan disitu, tetapi banyak juga orang-orang yang menjajakan dagangannya untuk berekrekeasi sambil beurusaha secara kecil-kecilan untuk sekedar menambah penghasilan mereka, ada beberpa pedagang yang sempat CE wawancarai, seperti misalnya ada seorang exekutif muda dibidang IT ( Diarto) bersama keluarganya mencoba menyajikan masakan khas Surabaya Rawon, menurutnya, disamping menambah akses dan sahabat, dia juga merasakan kegiatan ini merupakan rekreasi keluarga, yang lain misalnya Liar's Colection, anak remaja ini sambil menunggu rentang waktu kuliah, hari minggu dia pergunakan untuk mencoba memasarkan koleksi baju yang dia miliki.
Secara uumum kegiatan ini sebenarnya dapat pula mendongkrak atau menambah penghasilan bagi yang bekcimpung disini, banyak pula orang-orang yang secara tidak langsung mendapatkan penghasilan dari kegiatan ini, dari orang memasang tenda, menjaga keamanan dan lain-lain.
Semoga kegiatan ini dapat dipertahankan dan selamat berkreasi untuk semua yang berkecimpung disini, semoga sukses (CE)
Selasa, 01 Juni 2010
Pak Ujun dan Auto 'D
Pak Ujun sangat memperhatikan grup band indie,hal ini terlihat pada saat Auto 'D mempromosikan album barunya yang berjudul"Isyarat Cinta".Di DTC Sawangan Depok pada tanggal 30 Mei yang lalu Pada kesempatan itu saya sempat berbincang-bincang dengannya, dia menyatakan bahwa perhatian terhadap Auto 'D ini terjadi karena keuletan dari Grup Auto 'D yang anggotanya adalah karyawan salah satu perusahaan garment namun setelah mereka bekerja seharian mereka masih menyempatkan diri berlatih bersama, sehingga terbentuklah sebuah album yang ada.
Dia menyadari kalau album ini masih banyak kekurangannya,namun sisi keuletan dari Auto 'D yang membuatnya salut dan membantu mereka dari segi moril dan materil yang dibutuhkan oleh Grup Auto 'D sehingga dapat tercipta sebuah album perdana duto 'D. (Ryo Chicak).
Sabtu, 15 Mei 2010
Resepsi Pernikahan Bang Jamil di Garut







hari ini sabtu , 15 Mei 2010, Bang jamil melangsungkan resepsi pernikahan dengan gadis pilihan hatinya (linda) di Garut, suasana sederhana tapi tetap meriah, Aku, Ucip dan Astrid menyempatkan diri larut dalam kebahagiaan di resepsi pernikahan itu. Selamat berbahagia Bang jamil dan Linda, tapi ingat harus tetap ingat sama mediant Global Mandiri lho.(Ryo)
Selasa, 11 Mei 2010
Profesi Pengamen

Persepsi minor terhahadap pengamen yang menjual skillnya dari rumah ke rumah maupun di jalan raya untuk saat ini masih sangat kental terasa, beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri ikut mengamen bersama abang X, memang benar pada saat pertama aku muncul di pintu pagar , mata pemilik rumah terlihat curiga pada kami,seolah mereka takut harta benda mereka akan kami ambil.
Mental untuk menahan emosi coba aku pertahankan ,ternyata setalah abang X menyanyikan lagu dengan benar, mereka lama kelamaan bersimpatik pada Pengamen. dan akhirnya mereka memberikan uang sekedarnya buat abang X yang hari sabtu dan Minggu berprofesi sebagai pengamen. Pada kesempatan tersebut saya sempat berbincang-bincang dengan abang x yang memang berprofesi sebagai pengamen sabtu minggu untuk menambah penghasilannya yang pas-pasan sebagai karyawan di satu perusahaan,berbicara mengenai pengamen menurut abang x sebenarnya persepsi minor terhadap pengamen adang berasal dari pengamen itu sendiri,sehingga menurut dia sebagai pengamen yang menjual skill menyanyi dari rumahsatu ke rumah yang lainnya sopan santun harus benar-benar dijaga, memang ada juga pemilik rumah yang memang pada dasarnya tidak suka dengan pengamen,jika menemui hal seperti ini sebaiknya sebagai pengamen tidak usah memaksakan diri kalau sudah menyanyi pasti diberikan uang, karena yang dijual oleh Pengamen adalah skill menyanyi,bila skill pengamen bagus istilahnya pasti orang yang kita kunjungi akan menghargai kita,mungkin dengan ucapan terima kasih saja sudah cukup bagi Pengamen, namun menurut pengalaman abang x, hanya sekitar 20% orang yang dikunjungi yang tidak memberikan imbalan uang padanya.
Yang saya soroti disini adalah kreativitas abang x untuk memberanikan diri menjual potensi yang ada pada dirinya, jadi kita sebenarnya dapat berkreasi sesuai dengan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. dan secara pribadi saya berpesan pada seluruh pengamen agar bersikaplan santun dalam menjual skill kita.
Minggu, 25 April 2010
Auto 'D Band Mau Promosi Album Baru

Auto 'D Band grup band pendatang baru, rencananya akan melakukan promosi keberapa tempat disekitar Jabodetabek. Personil Auto 'D Band yang terdiri dari , Vocalis : Anwar Aditua, Rithym : Rudi Mashudi, Basis: Teguh, Melodi : Ibnu dan Drumer : Purwanto, saat iini sedang berlatih dan berlatih menambah skill, demi memberikan yang terbaik bagi para penggemarnya. Pada tanggal 25 April 2010, mereka berlatih distudio Chicak.
Rabu, 21 April 2010
Festival Go Green di TMII 20 April 2010





Ada beberapa dokumentasi Festival Go Green di TMII tanggal 20 April 2010 , Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT TMII ke 35. Penyelenggaraanya dilaksanakan oleh Angels Promotion
Dalam kegiatan ini Juara pertama diraih oleh : Kian Santang Band dari Bogor, Juara II diraih oleh : Inspirasi Band dari Bandung, Juara III ditaih oleh Da Vinci Band dari Ciganjur, sedang juara harapan 1 diraih oleh : Cleosa Band dari tangerang dan juara harapan II diraih oleh : CHOCO CHIP BAND.
Senin, 19 April 2010
Uji Coba di Panggung TMII


Hari ini Senin, 19 April 2010, aku bantu Choco Cip Band manggung di TMII, panggung ini mengingatkan aku ketika aku masih bersama Chicak Band, manggung pada saat panggung ini baru dibuka kurang lebih 2 tahun yang lalu, saat ini panggungnya makin kelihatan rapih dan megah.Dari siang hingga malam ini masih berlangsung laga band remaja yang ada disekitar Jabodetabek. Pesertanya ada kurang lebih 50 peserta. meriah juga, tapi cukup tertib dan teratur
Minggu, 18 April 2010
Rencana Tempat Mentas Grup Anak Band Pemula

Pada hari minggu ini team EO dari Mediant Global Mandiri (Ryo, Astrid, Ucip dan Taufan) melakukan pembicaraan awal dengan fihak management DTC ( Pak Kardona Dan Bung Tamy), pada saat itu fihak management sangat antusias menyambut kedatangan team EO dari Mediant Global Mandiri, tentang rencana menampilkan grup anak band pemula di DTC Depok.
Selanjutnya fihak Management juga meminta secepatnya agar EO dari Mediant Global Mandiri membuat schedul kegiatan yang akan dilakukan, hal ini diperlukan mengingat padatnya kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di DTC Depok.
Kamis, 25 Februari 2010
Mencegah Korupsi Secara Dini


Masyarakat Transparansi Indonesia hari ini memberikan pemahaman tentang tindak pidana korupsi kepada pelajar SMP dan SMU di Jakarta Barat, peserta yang hadir merupakan perwakilan dari pelajar yang terpilih dari sekolah masing-masing. Bang Jamil dan rekan-rekannya dari MTI memberikan pengertian-pengertian tentang apa ang dimaksud Tindak Pidana Korupsi dan bagaimana sebagai pelajar dapat memberikan peran terhadap tidak terjadinya tindak pidana korupsi yang saat ini di negara kita sedikit demi sedikit mulai berkurang. Pada kesempatan itu bang jamil mencoba memberikan angket kepada Para pelajar yang diimplementasikan dalam satu karton kejujuran. Karton kejujuran ini merupakan satu kegiatan yang mencoba mengungkap tingkat kejujuran dari diri kita sendiri, dalam artian setiap pelajar dicoba untuk mengungkapkan apa yang telah diperbuat selama ini dengan jujur dan secara transparan dinalisis bersama. Kegiatan ini terlihat memang sangat sederhana, namun demikian diharapkan setelah adanya analisis secara transparan ,kita mencoba melakukan koreksi diri kita masing-masing.
Koreksi diri memang diperlukan, sehingga dengan satu niat yang luhur disertai moral dan integritas yang tinggi terhadap negara, maka perbuatan yang kira-kira dapat merugikan negara atau orang lain secara jujur dan ikhlas dapat dicegah untuk tidak dilakukan oleh kita.Apabila ini secara berkesinambungan dilakukan terus-menerus oleh seluruh anak bangsa, maka korupsi yang menjadi momok rakyat dapat dicegah secara dini dan dimulai dari diri kita masing-masing.
Selasa, 09 Februari 2010
Bicara Masa Depan
Hari ini Median Global Mandiri kedatangan tamu, disamping vokalis senior (Manto Darmanto), hadir pula pak Untung Subagyo (Kepala cabang Asuransi Bumi Putera 1912 Jakarta Selatan). Pembicaraan menyangkut prospect dari Median Global Mandiri dan Sumber Daya Manusia yang ada di sini. Pembicaraan sangat menarik topik pembicaraan menyangkut pengembangan pribadi dan masa depan dari Grup Median Global Mandiri. Disamping juga jaminan asuransi kesehatan dan kecelakaan bagi SDM yang ada di Median Global Mandiri.
Langganan:
Postingan (Atom)